masukkan script iklan disini
Oleh: TGB Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, M.A
RADARHUKUM.SITE | SIANTAR - Beberapa hari lalu, sebuah “hadiah dari Tuhan” datang dalam bentuk yang tidak pernah diharapkan: ujian sakit.
Jantung tiba-tiba berdebar kencang, tubuh terasa lemas dan hampir terjatuh. Dalam kondisi tersebut, saya segera dibawa ke rumah sakit terdekat, RS Efarina Kota Siantar.
Alhamdulillah, pelayanan yang saya terima sangat baik. Penanganan dokter berlangsung cepat, didukung fasilitas dan peralatan medis yang menurut saya sudah sangat maju. Saya juga mendapatkan perawatan di kamar President Suite.
Sebagai masyarakat Siantar-Simalungun, tentu kita patut bersyukur dan bangga memiliki fasilitas kesehatan seperti RS Efarina.
Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. JR Saragih, SH., MM. atas segala kebaikan dan perhatiannya. Saya meyakini pelayanan dan perhatian yang begitu baik tersebut tidak terlepas dari perhatian beliau, meskipun saat itu sedang berada di luar kota.
Setelah kondisi membaik, saya kemudian kembali ke pondok persulukan dan menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, ketika sedang beraktivitas, kondisi tubuh kembali tiba-tiba menurun. Saya mengalami lemas yang ekstrem hingga tidak berdaya.
Para jemaah, tokoh masyarakat dan keluarga kemudian sepakat agar saya segera dibawa ke Penang untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut sekaligus second opinion.
Dari Siantar ke Penang
Dalam perjalanan melalui Bandara Kualanamu, saya mendapatkan banyak kemudahan dan perhatian dari pihak imigrasi maupun tim medis agar tetap dapat melakukan penerbangan, mengingat kondisi tubuh saat itu sangat lemah.
Setibanya di Penang, saya langsung dibawa ke IGD Northern Heart Hospital dan mendapatkan penanganan dari dokter yang merawat saya.
Keesokan harinya, saya menjalani tindakan kateterisasi jantung untuk memastikan kondisi jantung.
Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah, tsumma alhamdulillah.
Setelah seluruh pemeriksaan dilakukan, dokter menyampaikan bahwa tidak ditemukan penyakit jantung sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya.
“All is well,” demikian ungkapan dokter yang tentu menjadi kabar yang sangat melegakan.
Namun, pemeriksaan kemudian dilanjutkan untuk mencari tahu penyebab mengapa tubuh saya tiba-tiba drop, mengalami lemas ekstrem dan kehilangan tenaga.
Dari pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, ditemukan adanya batu serta pembengkakan pada ginjal sebelah kiri.
Kami kemudian melanjutkan pemeriksaan ke dokter spesialis urologi di Island Hospital Penang, rumah sakit yang sebelumnya pernah menjadi tempat saya menjalani operasi batu ginjal pada 2014.
Alhamdulillah ala kulli hal.
Setelah dilakukan CT scan, kembali ditemukan batu pada ginjal sebelah kiri. Dokter kemudian menyarankan tindakan operasi karena kondisi batu tersebut sudah tidak memungkinkan untuk ditangani dengan metode laser.
Sakit Bukan Sekadar Derita
Terlepas dari penyakit apa pun yang sedang kita alami, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk dipelajari: bagaimana kita berdamai dengan ujian kehidupan.
Sakit bukan hanya tentang tubuh yang melemah. Ada pelajaran batin yang sering kali justru baru kita temukan ketika berada dalam kondisi tidak berdaya.
Setiap manusia tentu ingin sehat, kuat dan menjalani kehidupan tanpa gangguan. Tetapi ketika Allah memberikan ujian, kita tidak memiliki pilihan selain belajar menerima, ikhlas, bersabar, berikhtiar dan bertawakal.
Bahkan, jika mampu, proses tersebut hendaknya ditingkatkan menuju maqam syukur—menerima ujian bukan hanya dengan kesabaran, tetapi dengan keyakinan bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu ada hikmah.
Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa sedih, takut atau sakit. Ikhlas adalah kemampuan hati untuk menerima kenyataan tanpa terus-menerus memberontak terhadap takdir, tanpa menyalahkan keadaan dan tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Ketika hati mulai menerima, rasa sakit perlahan menemukan maknanya.
Kekecewaan yang terus dilawan dapat memperpanjang luka. Sebaliknya, penerimaan, kesabaran, ikhtiar dan tawakal dapat mengubah luka menjadi kekuatan.
Pada akhirnya, keikhlasan bukan berarti rasa sakit hilang seketika. Keikhlasan mengubah arah perjalanan kita - dari sekadar merasakan luka menjadi menemukan hikmah.
Bisa jadi kesembuhan datang dalam bentuk kesehatan.
Bisa jadi pertolongan hadir melalui orang-orang baik.
Bisa jadi ketenangan justru lahir setelah kita melewati masa-masa paling berat.
Dan apabila ujian itu ternyata menjadi jalan pulang kepada-Nya, maka semoga kita dapat menerima takdir tersebut sebagai bagian dari cinta Allah yang paling sempurna.
Terima Kasih untuk Semua yang Peduli
Dalam perjalanan menghadapi ujian kesehatan ini, saya menyadari satu hal penting: manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Ada begitu banyak tangan yang membantu, doa yang dipanjatkan, perhatian yang diberikan, bahkan bantuan material untuk mendukung proses pengobatan.
Karena itu, dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Siantar Bapak Wesly Silalahi, SH., M.Kn.; Bupati Simalungun Bapak Dr. Achmad Anton Saragih; Bapak Haji Kharuddinsyah (Haji Buyung Sitorus) dan keluarga; appara kami Haji Dr. Novri Aritonang, SH., MM.; Tuan Haji Dr. Sugiat Santoso; Tuan Ronal Pangaribuan; Bona Uli Rajagukguk; Tuan Dedek Pradesa, serta seluruh tetamu, keluarga dan saudara yang telah datang menjenguk dan memberikan perhatian.
Ucapan terima kasih secara khusus juga saya sampaikan kepada ito kami Lurinim Purba, yang bahkan hingga larut malam tetap ikut membantu.
Kepada Kakak kami Hj. Dr. Morina Harahap di Jakarta, terima kasih atas doa, perhatian dan kekuatan yang terus diberikan.
Terima kasih juga kepada Kak Morinda dan Kak Sri Wahyuni.
Secara khusus, apresiasi dan terima kasih saya sampaikan kepada appara kami, Kepala Kantor Imigrasi Belawan Eko Rakagukguk, yang begitu aktif memberikan perhatian dan membantu dalam kondisi yang kami alami.
Dan tentu saja masih banyak lagi nama yang belum dapat saya sebutkan satu per satu.
Kepada semuanya, saya mohon maaf apabila ada yang belum sempat saya balas pesan atau angkat panggilannya. Kondisi kesehatan membuat komunikasi melalui telepon seluler belum dapat saya respons sebagaimana biasanya.
Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana:
Terima kasih atas setiap doa. Terima kasih atas setiap perhatian. Terima kasih atas setiap pertolongan. Dan terima kasih kepada semua orang baik yang hadir ketika kami sedang diuji.
Semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan tersebut dengan kesehatan, umur panjang, keluasan rezeki, kebahagiaan dan keberlimpahan keberkahan.
Semoga sakit menjadi jalan kesembuhan, ujian menjadi jalan kedewasaan, kesabaran menjadi kekuatan, dan pada akhirnya setiap ketetapan Allah membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Penulis adalah Tokoh Spiritual Sufi dari Tanah Batak Simalungun yang meneruskan Kepemimpinan di Pondok Persulukan Serambi Babussalam Simalungun rintisan Tuan Guru Batak pertama Al-Arif Billah AllahuYarham Syeikh Abdurrahman Rajagukguk Qs.






