• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    banner

    Iklan


     

    Catatan Kritis Terhadap Praktik Jurnalisme dan Dakwah: Studi Kasus Narasi Edy Mulyadi

    MEDIA ONLINE NASIONAL
    Kamis, 09 Juli 2026, Juli 09, 2026 WIB Last Updated 2026-07-10T06:31:03Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Damai Hari Lubis
    Anggota Dewan Penasihat DPP. KAI (Eks Sekretaris Dewan Kehormatan DPP. KAI 3 periode).

    1. Pendahuluan

    Dalam ekosistem media digital saat ini, peran jurnalis dan da’i mengalami konvergensi yang kompleks. Di satu sisi ada tuntutan profesionalisme jurnalistik, di sisi lain ada tanggung jawab moral dan etika dakwah. Tulisan ini mengkaji praktik komunikasi publik yang dilakukan oleh Edy Mulyadi, yang dikenal dengan dua peran: wartawan/ jurnalis senior dan dai.

    2. Persoalan Integritas Jurnalistik

    Salah satu prinsip dasar kode etik jurnalistik adalah asas keberimbangan, verifikasi, dan konfirmasi dua arah sebelum berita dipublikasikan (check and rechek) semata demi akurasi berita (profesional proprosionalitas, objektivitas dan akuntabel)

    Dalam beberapa narasi yang disampaikan Edy Mulyadi melalui kanal YouTube pribadinya, muncul klaim informasi "A1" yang bersumber dari "orang dalam". Contohnya adalah pernyataan terkait dugaan penerimaan "proyek senilai 1 Triliun" oleh Eggi Sudjana.

    Permasalahannya: 

    1.  Minimnya Verifikasi: Narasi tersebut disampaikan tanpa disertai bukti klarifikasi atau konfirmasi langsung kepada subjek hukum yang diberitakan.

    2. Orientasi Komersialisasi: Pola penyajian yang sensasional berpotensi meningkatkan jumlah view dan subscriber. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah substansi pemberitaan didahulukan, atau justru kepentingan ekonomi dari algoritma media sosial.

    Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini dapat dikategorikan sebagai politisisasi isu dan eksploitasi kasus untuk kepentingan atensi publik.

    3. Inkonsistensi Peran Ganda: Kontraproduktif Jurnalis dan Da’i
    Profesi jurnalis menuntut objektivitas, akurasi, dan tanggung jawab sosial. Sementara profesi da’i menuntut keteladanan akhlak, kejujuran, dan prinsip qana’ah atau merasa cukup.

    Ketika kedua peran ini dijalankan secara bersamaan, maka standar etikanya menjadi berlipat. Ketidakseimbangan (subjektifitas) akan terlihat ketika narasi yang dibangun lebih berorientasi pada popularitas sesaat dan keuntungan materi, bukan pada kemaslahatan dan konfirmasi atau tabayyun.

    Dalam konteks ini relevan kaidah yang diriwayatkan Imam Thabrani:  
    "Tetaplah kamu dalam sifat qana’ah, karena sesungguhnya sifat qana’ah itu adalah harta yang tidak pernah habis."
    HR. Thabrani

    Prinsip qana’ah mengingatkan agar orientasi kerja tidak semata pada akumulasi materi dan popularitas duniawi, melainkan pada kebermanfaatan dan integritas.

    4. Penutup dan Rekomendasi

    Sebagai insan pers dan pengemban dakwah, penting untuk menjaga 3 pilar: 
    1.  Tabayyun: Mengonfirmasi berita kepada pihak terkait sebelum dipublikasikan. QS. Al-Hujurat: 6
    2.  Objektivitas: Memisahkan antara fakta, opini, dan kepentingan komersial.
    3. Qana’ah: Menjadikan dakwah dan jurnalisme sebagai ladang amal, bukan semata komoditas atensi.

    Semoga catatan ini menjadi bahan refleksi bersama untuk meningkatkan kualitas wacana publik yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan beretika.

    Salam Cerdas

    Tangerang Selatan, Maljum, 9 Juli 2026
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    Hukum (69) Nasional (47) Medan (27) Daerah (6) Tokoh (5) Binjai (4) Redaksi (4) Hari Lahir Pancasila (3) Langkat (3) gni (3) kakorlantas polri (3) Aceh (2) GNI (2) HUKUM (2) #BNNP #Sumut #Narkoba #Hukum (1) #HUT #TIDAR #SUMUT #INDONESIA #POLITIK #SOSIAL (1) #Hukum #Agama #Politik #Islam (1) #hukum #politik #narkoba (1) #kadisdik #labuhanbatu (1) #opini #publik #politik #hukum #kpk #langkat #sumut (1) #politik #hukum (1) #politik #hukum #sosial (1) API (1) Aktivis HMI (1) Alor (1) BGN (1) Bencana (1) Biaya (1) Dairi (1) Ekonomi Masyarakat Perdesaan (1) HMI (1) IYE (1) Jakarta (1) KAHMI LABUHANBATU SELATAN (1) KAHMI MEDAN (1) Labahunbatu (1) MBG (1) MKN APUDSI (1) MUI (1) Mahasiswa (1) Mataram (1) NASIONAL (1) Pengawasan (1) Program MBG (1) Pusat (1) Rakeyan Nuswajati Bezie Galih Manggala (1) Sosial - Politik - Agama (1) Tamiang (1) Tanah (1) Transformasi Humanis (1) agus suryonugroho (1) akbar himawan bukhori (1) aksi jilid ll (1) apii (1) armed (1) banjir sumatera (1) bantuan bencana (1) cendikiawan muslim (1) dema uinsu (1) desak periksa rektor (1) diskusi publik (1) dukung polri (1) figur inklusif (1) gelar doktor (1) hasyim se (1) icmi (1) irjen pol agus (1) irjen pol agus suryonugroho (1) jabodetabek (1) kakorlantar polri (1) kejaksaan agung (1) kepala BGN (1) kepentingan masyarakat (1) kepercayaan publik (1) kompolnas (1) korps lalu lintas (1) korupsi batu bara (1) mahasiswa (1) makan bergizi gratis (1) mobil mbg tabrak siswa (1) ngaji ai (1) opini liar (1) pemikiran cak nur (1) pemimpin medan (1) polisi humanis (1) polri (1) polri humanis (1) presiden prabowo (1) ramadhan (1) reformasi polri (1) rektor uinsu (1) sambut ramadhan (1) siswa (1) transformasi polri (1) uinsu (1) univ paramadina (1) yayasan al azhar (1)