• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    banner

    Budaya Melayu Mendidik Anak: Melentur Buluh Sejak Rebung demi Generasi Berkarakter Mulia

    RADAH  TV
    Kamis, 30 Juli 2026, Juli 30, 2026 WIB Last Updated 2026-07-30T13:56:27Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Budaya Melayu Mendidik Anak: Melentur Buluh Sejak Rebung demi Generasi Berkarakter Mulia
     





    MEDAN, 30 Juli 2026 – Bagi masyarakat Melayu, mendidik anak bukan sekadar proses pengajaran kemampuan akademis seperti membaca dan berhitung semata. Pendidikan dipandang sebagai fondasi kehidupan yang harus ditanamkan sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga sebagai tempat pertama dan utama pembentukan kepribadian. Orang tua adalah guru pertama dan teladan sejati, sementara rumah berperan sebagai madrasah awal yang menanamkan nilai-nilai budi pekerti luhur.


     
    Sejak kecil, anak-anak dibiasakan dengan adab sopan: mengucapkan salam saat bertemu, menghormati orang tua dan orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta berbicara dengan nada lembut dan tutur kata yang santun. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Melayu yang terpatri dalam pepatah bijak: "Melentur buluh biarlah dari rebungnya". Maknanya mendalam, bahwa pembentukan karakter dan akhlak harus dimulai saat jiwa masih bersih dan lentur, sebelum terbawa kebiasaan yang sulit diubah di masa mendatang.


     
    Pola asuh ini berlandaskan prinsip utama "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah", yang menyatukan kearifan lokal dengan nilai-nilai agama. Pendidikan yang diberikan tidak hanya mengarahkan anak menjadi pribadi yang Berilmu, melainkan juga Beradab, Berbudaya, dan mampu hidup Bermasyarakat. Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, disiplin yang penuh kelembutan, serta teladan nyata dari orang tua akan tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, mencintai warisan leluhur, dan siap menjadi perekat persatuan.


     
    Pendidikan berbasis budaya Melayu ini mengajarkan bahwa kesuksesan seseorang tidak diukur semata dari tingginya jabatan atau banyaknya harta, melainkan dari kebaikan budi, kejujuran, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. Ketika nilai-nilai ini terus dijaga dan diteruskan, maka peradaban bangsa akan tetap kokoh berdiri, lahir generasi penerus yang berwawasan luas namun tetap rendah hati, serta menjaga martabat dan kehormatan budaya yang diwariskan nenek moyang.
     


    Kini, di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, tantangan dalam mendidik anak semakin beragam. Oleh karena itu, peran keluarga menjadi semakin krusial untuk kembali menguatkan pondasi karakter, agar anak-anak tidak kehilangan jati diri. Melalui pendidikan yang menanamkan adab sejak dini, kita mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada harta benda: yaitu akhlak mulia yang akan menjadi beban hidup hingga akhir nanti.
     
     ( TIM)
     

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini