masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
RADARHUKUM.SITE | Medan, 23/05/2026 - Dunia hari ini tampak modern, canggih, dan penuh slogan tentang kebebasan.
Namun di balik gemerlap teknologi, demokrasi, dan peradaban global, manusia perlahan sedang hidup di bawah ketakutan yang baru.
Dulu, Fir’aun berdiri di atas singgasana Mesir sambil berkata:
"Akulah tuhan tertinggi kalian."
Hari ini, kalimat itu tidak lagi diucapkan secara terang-terangan.
Ia disembunyikan di balik kuasa modal, media, oligarki, algoritma, dan kepentingan global yang mengatur arah pikiran manusia tanpa disadari.
Mereka tidak selalu datang dengan mahkota.
Kadang mereka hadir sebagai penguasa ekonomi dunia, pengendali informasi, pemilik media raksasa, atau elite global yang menentukan nasib jutaan manusia dari ruang-ruang tertutup.
Mereka berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi membiarkan perang menjadi industri.
Mereka berbicara tentang demokrasi, tetapi membungkam suara-suara yang mengkritik kekuasaan.
Mereka berbicara tentang kemanusiaan, tetapi diam ketika rakyat kecil dihancurkan oleh kemiskinan, utang, dan eksploitasi sistemik.
Inilah Fir’aun modern.
Ia tidak selalu membunuh tubuh manusia.
Kadang ia membunuh keberanian, membungkam akal sehat, dan membuat manusia takut berbicara jujur.
Kita hidup di zaman ketika opini publik dapat dibentuk dalam hitungan detik,
ketika kebenaran bisa dikalahkan oleh propaganda,
dan ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan membedakan cahaya dan fatamorgana.
Yang paling berbahaya bukanlah kekuatan senjata,
melainkan ketika manusia dipaksa menerima kedzaliman sebagai sesuatu yang normal.
Maka sejarah Musa menjadi sangat relevan hari ini.
Musa hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai suara kebenaran di tengah sistem yang mabuk kekuasaan.
Ia berdiri di hadapan Fir’aun bukan karena memiliki tentara besar, tetapi karena ia membawa keberanian tauhid: bahwa tidak ada kekuasaan yang absolut selain Allah.
Dan setiap zaman selalu melahirkan Fir’aunnya sendiri.
Ketika kekuasaan mulai anti kritik,
ketika rakyat dipaksa tunduk melalui rasa takut,
ketika media kehilangan keberanian moral,
dan ketika suara kebenaran dianggap ancaman negara—
maka sesungguhnya dunia sedang mengulang kisah lama dengan nama baru.
Karena itu, menempuh jalan sunyi hari ini bukan berarti menyerah.
Kadang menjaga nurani adalah bentuk perlawanan terakhir.
Menjadi seperti Ashabul Kahfi di zaman modern:
menyelamatkan iman dari peradaban yang kehilangan ruh,
menjaga cahaya di tengah dunia yang sibuk menyembah kekuasaan.
Sebab sejarah membuktikan,
tak ada imperium yang benar-benar abadi.
Fir’aun pernah merasa mustahil tumbang.
Namun laut yang sama yang ia kuasai justru menjadi kuburannya.
Dan mungkin, di zaman ini, kehancuran kekuasaan yang dzalim juga sedang menunggu waktunya sendiri.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak ikut mabuk oleh kuasa,
dan tetap menjadikan kita manusia yang berani memihak kebenaran, walau harus berjalan di jalan sunyi.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. 🤲
(Redaksi)






