• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sugiat Santoso: Elit Politik yang Tetap Membumi, dari Akar Rakyat ke Energi GIAT

    REDAKSI
    Kamis, 09 April 2026, April 09, 2026 WIB Last Updated 2026-04-10T02:58:46Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh Dr. Mawardi Siregar, MA
    Murid Spiritual Tuan Guru Batak 

    RADARHUKUM.SITE, JAKARTA (10/4/26)

    Di tengah fenomena kesenjangan yang kian menganga antara elit politik dan rakyat, kehadiran figur yang mampu menjembatani keduanya menjadi sesuatu yang langka. Namun, bagi masyarakat Sumatera Utara, jarak itu seakan menemukan penawarnya melalui sosok Sugiat Santoso, yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI Komisi XIII. Sosok yang akrab disapa oleh para aktivis dengan sebutan “Bang Sugiat” hadir layaknya seperti oase di tengah gurun pasir, memberi harapan di tengah dahaga akan kepemimpinan yang membumi.

    Meskipun berada di lingkaran kekuasaan, Sugiat Santoso tetap terhubung erat dengan denyut kehidupan masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Harus diakui pula, bahwa Sugiat Santoso menghadirkan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan aktor politik lainnya. Di saat sebagian politisi tampil dengan simbol-simbol kemewahan, pakaian mahal, aksesori mencolok, dan gaya hidup eksklusif, Sugiat justru memilih sebaliknya. Ia tampil sederhana, nyaris tanpa atribut kemewahan, sikapnya bersahaja, serta cara bergaulnya yang rendah hati seolah menghapus sekat sosial yang oleh Karl Marx disebut sebagai jurang pemisah antara borjuis dan proletar.

    Lebih dari itu, Sugiat Santoso adalah bagian dari elit politik yang tidak tercerabut dari akar sosialnya. Dalam berbagai kesempatan, secara sadar ia tegaskan, “Saya anak petani. Orang tua saya petani. Saya lahir dari rakyat biasa. Saya dulunya aktivis jalanan. Maka bagi saya, jabatan ini bukanlah segalanya. Jabatan itu merupakan sarana untuk bekerja nyata bagi rakyat, sekaligus jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan”.

    Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Pesan tersebut sesungguhnya mengandung makna kesadaran yang cukup mendalam, bahwa asal-usul tidak boleh dilupakan. Latar belakang sebagai anak petani atau rakyat biasa bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan ketika menjadi pejabat publik. Semua itu harus menjadi fondasi moral dalam menjalankan amanah sehingga akan lahirlah sensivitas dan kepekaan terhadap persoalan-persoalan riil masyarakat. Kesadaran itu pulalah yang saya lihat menjadi dasar rumusan gagasan gerakan politik yang di tuangkan Sugiat dalam novelty disertasinya yang ia sebut dengan konsep GIAT—Gerakan, Inklusif, Akar (Mengakar), dan Tumbuh.

    Konsep GIAT tidak berhenti sebagai rumusan akademik, tetapi menjelma menjadi etos kerja. Gerakan berarti tidak pasif, melainkan aktif menginisiasi perubahan. Inklusif berarti membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai elemen masyarakat. Akar (mengakar) menegaskan pentingnya kedekatan dengan basis sosial agar setiap kebijakan tetap relevan. Sementara Tumbuh menunjukkan komitmen untuk terus berkembang, beradaptasi, dan menghadirkan dampak yang berkelanjutan.

    Melalui gagasan GIAT, Sugiat Santoso menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar, tetapi dari konsistensi menjaga akar, merawat kepercayaan, dan bekerja nyata bagi masyarakat. Inilah politik yang tidak hanya berbicara, tetapi juga bergerak dan berdampak.

    Tentu saja, perjalanan politik Sugiat Santoso tidak lahir dari ruang hampa. Perjalanan itu terbentuk dari pengalaman panjang sebagai aktivis jalanan yang akrab dengan perjuangan kaum kecil. Perjalanan itu juga lahir dari tempaan spiritual yang kuat, karena Sugiat Santoso dikenal sebagai sosok politisi Senayan yang kerap mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA. Bimbingan itu pulalah yang menjadi fondasi etik dan spiritual dalam setiap langkah politik yang dilakukan Sugiat Santoso.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini