masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur’an dan Peradaban)
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh dinamika ini, manusia kerap terjebak pada ilusi kepemilikan. Kita merasa memiliki harta, jabatan, keluarga, bahkan waktu. Ketika sesuatu itu lepas dari genggaman, hati pun diliputi kegelisahan, kesedihan, bahkan keputusasaan. Padahal dalam pandangan tauhid, sejatinya kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun, dan karenanya kita pun tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun.
Al-Qur’an secara tegas menanamkan kesadaran bahwa seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah semata:
“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 284)
“Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan.”
(QS. Al-Hadid: 2)
Manusia hanyalah hamba yang menerima amanah, bukan pemilik mutlak:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu sebagai pengelola (amanah) atasnya.”
(QS. Al-Hadid: 7)
Apa yang hari ini kita genggam sejatinya hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik:
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.”
(QS. An-Nur: 33)
Karena itu, ketika kehilangan terjadi, Al-Qur’an mengajarkan sikap yang benar:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)
Kesadaran ini bukan untuk melemahkan semangat hidup, melainkan meluruskan orientasi. Sebab hidup bukan tentang kepemilikan, melainkan tentang pertanggungjawaban. Setiap yang kita terima akan dimintai jawab di hadapan Allah:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang segala kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Dalam kehidupan ini, Allah juga menegaskan bahwa semua yang ada hanyalah ujian:
“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (ujian).”
(QS. Al-Anfal: 28)
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu.”
(QS. At-Taghabun: 15)
Maka kehilangan bukanlah musibah dalam arti yang mutlak, melainkan bagian dari sunnatullah dalam mengelola amanah. Apa yang datang dari Allah akan kembali kepada Allah:
“Kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.”
(QS. Asy-Syura: 53)
“Dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah: 245)
Kesadaran ini melahirkan sikap ridha dan tawakal:
“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.”
(QS. At-Taubah: 51)
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)
Lebih jauh, pemahaman bahwa kita hanya hamba akan menumbuhkan kerendahan hati:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kita datang tanpa membawa apa-apa, dan akan kembali tanpa membawa apa-apa pula:
“Dan sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya.”
(QS. Al-An’am: 94)
Akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menjaga amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Kita tidak pernah memiliki apa pun—semuanya milik Allah. Dan kita tidak pernah kehilangan apa pun—kita hanya mengembalikan apa yang sejak awal bukan milik kita.
Semoga kesadaran ini menuntun kita menjadi hamba yang lebih ikhlas, lebih bijak, dan lebih bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan, hingga kelak kita kembali kepada Allah dalam keadaan membawa amanah yang telah kita tunaikan dengan sebaik-baiknya.




