masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Kurban adalah ibadah suci. Ia bukan panggung pencitraan politik, bukan alat membangun popularitas, dan bukan sarana memoles nama baik pejabat di hadapan rakyat. Ketika ada seseorang membeli hewan kurban memakai uang negara, uang rakyat, atau fasilitas jabatan, lalu mengatasnamakannya sebagai “sumbangan pribadi”, maka dalam perspektif Islam perbuatan itu bukan sekadar kesalahan administrasi, melainkan pengkhianatan amanah yang sangat serius.
Islam memerintahkan kejujuran dan melarang keras memakan harta yang bukan haknya.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil...” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang memakai uang publik demi kepentingan citra pribadi. Sebab uang negara bukan milik pribadi pejabat. Itu adalah amanah rakyat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan diputar menjadi alat propaganda kesalehan.
Lebih tegas lagi, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58)
Ketika anggaran negara dipakai membeli hewan kurban, tetapi masyarakat dibuat percaya bahwa itu berasal dari kantong pribadi, maka di situ terjadi dua dosa sekaligus: pengkhianatan amanah dan kebohongan publik.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan golongan kami.” (HR. Muslim)
Hadis ini sangat keras. Nabi tidak mengatakan “dia berdosa kecil”, tetapi “bukan golongan kami”. Mengapa? Karena penipuan merusak kepercayaan masyarakat dan menghancurkan moral kepemimpinan.
Dalam Islam, ibadah tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriah, tetapi juga dari sumber hartanya. Hewan kurban yang dibeli dari uang haram, uang hasil manipulasi, atau penyalahgunaan jabatan tidak akan membawa keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa amal ibadah yang berasal dari harta haram tidak diterima oleh Allah SWT. Demikian pula Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa harta yang diperoleh dengan cara zalim tidak bisa menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Ironisnya, di zaman ini ada orang yang menjadikan ibadah kurban sebagai panggung pencitraan kekuasaan. Mereka ingin dipuji dermawan, ingin disebut religius, ingin dipandang dekat dengan rakyat, padahal yang dipakai adalah uang rakyat sendiri. Ini adalah kemunafikan sosial yang dibungkus simbol agama.
Kurban sejatinya adalah simbol ketakwaan, bukan simbol kekuasaan. Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menghancurkan seluruh praktik riya dan pencitraan. Yang Allah lihat bukan ukuran sapi, bukan jumlah kambing, bukan baliho nama pejabat, melainkan kejujuran hati dan kebersihan harta.
Maka, bila ada pejabat memakai fasilitas negara untuk membeli hewan kurban lalu mengklaim itu sebagai “bantuan pribadi”, masyarakat tidak boleh diam. Diam terhadap manipulasi adalah awal kehancuran moral bangsa. Kritik terhadap penyalahgunaan amanah bukan kebencian, melainkan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa kerusakan negara dimulai ketika agama diperalat untuk kepentingan dunia dan kekuasaan. Ketika simbol ibadah dipakai untuk menipu rakyat, maka yang hancur bukan hanya keuangan negara, tetapi juga kehormatan agama itu sendiri.
Karena itu, siapa pun yang diberi amanah jabatan harus sadar: uang negara bukan warisan keluarga, bukan alat mencari tepuk tangan, dan bukan modal membangun citra kesalehan palsu. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dihisab di hadapan Allah SWT.
Jika benar ingin berkurban atas nama pribadi, maka keluarkan dari harta pribadi secara jujur dan terbuka. Tetapi bila memakai anggaran negara, katakan dengan jujur bahwa itu bantuan pemerintah atau fasilitas negara.
Jangan mencuri pujian dari harta milik rakyat.
Islam tidak mengajarkan kesalehan palsu. Islam mengajarkan kejujuran, amanah, dan takut kepada hisab Allah. Sebab di akhirat nanti, bukan rakyat yang akan mengadili, tetapi Allah Yang Maha Adil.






