masukkan script iklan disini
Oleh : Muhammad Mas’ud Silalahi., S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Bismillahirrohmanirrohiim
Malam Ramadhan sesungguhnya bukan sekadar pergantian waktu antara siang dan gelap. Ia adalah ruang metafisis tempat langit mendekat kepada bumi, dan manusia diundang kembali memasuki dialog primordialnya dengan Tuhan.
Shalat Teraweh, dalam kedalaman makna tasawuf, bukan hanya ibadah tambahan, melainkan ritus kepulangan eksistensial—kembalinya makhluk menuju asal cahaya keberadaannya.
Karena pada hakikatnya, manusia bukan sekadar tubuh yang berdoa, tetapi ruh yang sedang mengingat rumah asalnya.
Allah berfirman:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar, kami bersaksi.”
(QS. Al-A‘raf: 172)
Para sufi memahami ayat ini sebagai perjanjian azali (mītsāq al-alast) — momen komunikasi pertama antara manusia dan Tuhan sebelum keberadaan material tercipta. Teraweh menjadi gema dari percakapan purba tersebut.
Shalat sebagai Bahasa Ruh
Dalam perspektif tasawuf, komunikasi dengan Tuhan tidak berlangsung melalui kata-kata, tetapi melalui keberadaan (wujūd).
Abu Hamid al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menulis bahwa hakikat shalat bukan gerakan lahiriah, melainkan ḥuḍūr al-qalb — hadirnya hati di hadapan Realitas Mutlak.
Gerakan berdiri adalah kesadaran eksistensi.
Ruku’ adalah kerendahan ontologis.
Sujud adalah pengakuan bahwa wujud manusia hanyalah bayangan dari Wujud Tuhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud.” (HR. Muslim)
Kedekatan ini bukan kedekatan ruang, tetapi kedekatan kesadaran.
Ontologi Cahaya: Tajalli dalam Teraweh
Ibn Arabi menjelaskan bahwa alam semesta merupakan proses tajalli — penyingkapan sifat-sifat Tuhan dalam bentuk keberadaan.
Menurutnya:
“Alam adalah cermin, dan manusia adalah titik kesadarannya.”
Ketika ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dalam Teraweh, yang terjadi bukan sekadar pembacaan teks, tetapi manifestasi ulang Kalam Ilahi dalam ruang kesadaran manusia.
Suara imam bukan sekadar suara manusia; ia menjadi medium resonansi wahyu.
Hati yang bersih menangkap makna.
Hati yang lalai hanya mendengar bunyi.
Mi‘raj Kesadaran: Dari ‘Ilm menuju Ḥaqq
Para arif billah menjelaskan perjalanan spiritual melalui tiga tingkatan yaqīn:
‘Ilm al-Yaqīn — mengetahui Tuhan melalui pengetahuan
‘Ayn al-Yaqīn — melihat Tuhan melalui pengalaman batin
Ḥaqq al-Yaqīn — menjadi sadar sepenuhnya dalam kehadiran Tuhan
Jalal ad-Din Rumi menggambarkannya:
“Apa yang kau cari sebenarnya sedang mencari dirimu.”
Teraweh adalah latihan harian menuju maqam tersebut. Setiap rakaat mengikis tabir antara manusia dan Realitas.
Ilmu Kalam dan Rasionalitas Kehadiran Tuhan
Jika tasawuf berbicara melalui rasa, ilmu kalam berbicara melalui akal.
Fakhr al-Din al-Razi menjelaskan bahwa kesadaran manusia terhadap Tuhan merupakan konsekuensi logis dari keterbatasan eksistensi manusia sendiri. Yang terbatas pasti bergantung pada Yang Tak Terbatas.
Dalam perspektif ini, Teraweh bukan sekadar pengalaman emosional, tetapi afirmasi rasional bahwa manusia membutuhkan Absolut sebagai pusat makna.
Akal membuktikan keberadaan Tuhan.
Ibadah menghadirkan pengalaman Tuhan.
Nur Muhammad dan Kosmologi Ibadah
Dalam metafisika sufi, seluruh realitas berawal dari Nūr Muḥammad — cahaya primordial penciptaan.
Al-Junayd al-Baghdadi menyatakan bahwa perjalanan spiritual adalah kembali kepada kejernihan fitrah sebelum ego terbentuk.
Teraweh menjadi proses pemurnian itu:
puasa melemahkan tubuh,
dzikir melembutkan hati,
shalat menerangi ruh.
Di sinilah manusia perlahan keluar dari kegelapan ego menuju cahaya kesadaran ilahi.
Kesunyian sebagai Bahasa Tuhan
Modernitas menciptakan kebisingan komunikasi: pesan instan, layar digital, dan percakapan tanpa kedalaman.
Namun Tuhan tidak berbicara dalam kebisingan.
Para sufi berkata:
“Allah berbicara kepada hati yang sunyi.”
Teraweh menghadirkan kesunyian kolektif — paradoks spiritual di mana ratusan manusia berdiri bersama, tetapi masing-masing tenggelam dalam dialog personal dengan Tuhan.
Masjid berubah menjadi kosmos kecil.
Saf menjadi orbit.
Manusia menjadi pencari cahaya.
Teraweh: Jalan Pulang
Pada akhirnya, Teraweh bukan tentang jumlah rakaat, panjang bacaan, atau tradisi sosial Ramadhan.
Ia adalah perjalanan ontologis:
dari lupa menuju ingat,
dari ego menuju fana,
dari dunia menuju Tuhan.
Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya kepada Tuhanmulah tempat kembali.”
(QS. Al-‘Alaq: 8)
Setiap salam dalam Teraweh bukan akhir shalat, tetapi simbol bahwa manusia kembali ke dunia setelah sejenak menyentuh keabadian.
Allahu 'alam...


