masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Bismillahirrahmanirrahiim
Setiap memasuki bulan-bulan spiritual dalam Islam, tradisi tadarrus Al-Qur’an kembali hidup di tengah masyarakat. Masjid-masjid dipenuhi lantunan ayat suci, kelompok pengajian bermunculan, dan umat Islam berlomba menyelesaikan bacaan Al-Qur’an. Namun sebuah pertanyaan penting patut diajukan: apakah tadarrus hanya aktivitas membaca, atau sebenarnya sebuah proses pembentukan kesadaran manusia?
Tradisi intelektual Islam sejak lama memandang Al-Qur’an bukan sekadar teks untuk dibaca, tetapi wahyu yang mentransformasikan cara manusia memahami realitas. Dalam khazanah tasawuf, proses ini dijelaskan melalui konsep tiga tingkat keyakinan (yaqīn): ‘ilm al-yaqīn, ‘ayn al-yaqīn, dan ḥaqq al-yaqīn. Ketiga konsep ini menunjukkan bahwa iman dalam Islam bukan keadaan statis, melainkan perjalanan pengetahuan dan pengalaman spiritual yang bertahap.
Iman Tidak Berhenti pada Pengetahuan
Tahap pertama, ‘ilm al-yaqīn, adalah keyakinan berbasis pengetahuan. Seseorang percaya karena memperoleh informasi yang benar melalui wahyu, dalil, dan argumentasi rasional. Inilah tahap ketika umat Islam membaca Al-Qur’an, mempelajari tafsir, dan memahami ajaran agama secara intelektual.
Pada level ini, agama hadir sebagai sistem pengetahuan. Ia membentuk cara berpikir, memberi arah moral, dan menyediakan landasan keyakinan yang logis. Tidak mengherankan jika peradaban Islam klasik melahirkan tradisi ilmu yang kuat, karena iman dipandang selaras dengan akal.
Namun para ulama, termasuk Imam Al-Ghazali, mengingatkan bahwa pengetahuan rasional belum tentu menghadirkan kedekatan spiritual. Seseorang dapat mengetahui banyak tentang Tuhan tanpa benar-benar merasakan kehadiran-Nya dalam hidup.
Fenomena ini relevan dengan kondisi modern saat ini: informasi keagamaan melimpah, tetapi kedalaman spiritual justru sering terasa menipis.
Dari Membaca Menuju Mengalami
Tahap kedua adalah ‘ayn al-yaqīn, yaitu keyakinan melalui penyaksian batin. Jika sebelumnya manusia mengetahui kebenaran secara konsep, pada tahap ini ia mulai “melihat” makna tersebut dalam pengalaman hidupnya.
Tadarrus pada level ini tidak lagi sekadar membaca ayat, tetapi merenungkannya. Ayat Al-Qur’an menyentuh emosi, menggugah kesadaran moral, dan mengubah cara seseorang memandang dunia. Alam tidak lagi dianggap netral, melainkan tanda-tanda kehadiran Tuhan.
Inilah fase ketika agama menjadi pengalaman personal. Nilai-nilai Al-Qur’an mulai memengaruhi sikap sosial: muncul empati, keadilan, dan tanggung jawab kemanusiaan. Kesadaran semacam ini dapat disebut sebagai kesadaran profetik—kesadaran yang mendorong manusia bertindak sebagai pembawa kebaikan bagi sesama.
Dalam konteks masyarakat modern yang sering terjebak pada formalitas agama, tahap ini menjadi sangat penting. Tanpa penghayatan batin, praktik keagamaan berisiko kehilangan makna transformasinya.
Ketika Wahyu Menjadi Cara Hidup
Puncak perjalanan keyakinan adalah ḥaqq al-yaqīn, yaitu keadaan ketika kebenaran tidak lagi sekadar diketahui atau dirasakan, tetapi dihidupi sepenuhnya. Nilai wahyu menjelma menjadi karakter dan tindakan sehari-hari.
Dalam perspektif tasawuf, kondisi ini digambarkan sebagai meredanya ego manusia dan hadirnya kesadaran Ilahi dalam perilaku. Tadarrus tidak berhenti pada bacaan atau renungan, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam akhlak.
Nabi Muhammad SAW menjadi teladan tertinggi tahap ini. Ketika Aisyah menyatakan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an, itu menunjukkan bahwa wahyu telah menjadi struktur kepribadian beliau. Al-Qur’an tidak hanya dihafal, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan publik hari ini. Krisis yang dihadapi masyarakat modern—korupsi, kekerasan sosial, polarisasi, dan hilangnya empati—sering kali bukan disebabkan kurangnya pengetahuan agama, melainkan kurangnya internalisasi nilai agama dalam tindakan nyata.
Tadarrus sebagai Transformasi Sosial
Jika dipahami secara mendalam, tadarrus Al-Qur’an sesungguhnya merupakan proses transformasi bertahap: membaca, memahami, merenungi, lalu menghidupi nilai wahyu. Dari sinilah terbentuk manusia yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Konsep ini menunjukkan bahwa tujuan akhir agama bukan sekadar kepatuhan formal, melainkan pembentukan manusia paripurna—yang dalam tradisi Islam disebut insān kāmil. Sosok manusia yang berilmu, memiliki kesadaran spiritual, dan menghadirkan rahmat bagi lingkungannya.
Dalam masyarakat yang semakin kompleks, pendekatan ini menawarkan jalan tengah antara rasionalitas modern dan spiritualitas agama. Islam tidak menolak akal, tetapi juga tidak berhenti pada akal; ia mengarah pada kesadaran yang lebih dalam.
Penutup
Tadarrus Al-Qur’an seharusnya dipahami sebagai perjalanan menuju keyakinan sejati. Dari mengetahui kebenaran, menyaksikan maknanya, hingga menjadikannya sebagai cara hidup. Inilah proses yang mengubah iman dari sekadar konsep menjadi kesadaran eksistensial.
Ketika Al-Qur’an tidak hanya dibaca tetapi dihayati dan diwujudkan dalam tindakan, agama kembali pada fungsi utamanya: membentuk manusia yang berkesadaran profetik—manusia yang membawa cahaya nilai Ilahi dalam kehidupan sosial.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam tadarrus: bukan sekadar menamatkan bacaan, tetapi memulai perubahan diri.


