masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Ruang publik Indonesia belakangan kembali dipenuhi kegaduhan keberagamaan. Isu-isu simbolik—termasuk polemik tentang babi yang viral di media sosial—sekali lagi menunjukkan betapa diskursus agama kerap terjebak pada wilayah sensasi, bukan substansi. Agama direduksi menjadi perdebatan identitas, sementara nilai etik dan spiritualnya justru menghilang dari percakapan publik.
Di tengah riuh itu, Tuan Guru Batak (TGB), Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, M.A., memilih jalan berbeda: jalan sunyi yang meneduhkan. Alih-alih masuk dalam pusaran polemik, ia menghadirkan praktik keagamaan yang bersifat dialogis dan inklusif melalui komunikasi lintas agama, undangan buka puasa bersama yang menghadirkan para tokoh lintas agama sampai dengan silaturrahim lintas suku dan agama yang itu telah telah di realisasikan dalam berbagai moment-mement penting di Pondok Persulukan Serambi Babussalam Simalungun.
Langkah ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan tindakan sosial yang sarat makna simbolik. Dalam perspektif teori interaksi simbolik, tindakan sosial tidak hanya dipahami dari apa yang dilakukan, tetapi dari pesan yang dikirimkan kepada masyarakat.
Undangan lintas iman tersebut menjadi simbol bahwa spiritualitas sejati melampaui batas identitas formal dan bekerja sebagai ruang perjumpaan kemanusiaan.
Di sinilah tasawuf menemukan relevansinya dalam kehidupan kebangsaan modern.
Tasawuf yang dipraktikkan Tuan Guru Batak (TGB) tidak bergerak dalam ruang asketisme yang menjauh dari realitas sosial, melainkan hadir sebagai etika publik. Spiritualitas tidak diposisikan sebagai alat eksklusivitas, tetapi sebagai energi moral untuk memperkuat kohesi sosial.
Indonesia hari ini menghadapi paradoks keberagamaan: ekspresi religius semakin tampak di ruang publik, tetapi toleransi sosial justru sering terasa rapuh. Media sosial mempercepat produksi kemarahan kolektif; identitas agama mudah dipolitisasi; dan perbedaan kecil kerap berubah menjadi konflik simbolik yang besar.
Dalam konteks inilah sikap TGB menjadi relevan sekaligus progresif. Ia menunjukkan bahwa kedalaman iman tidak diukur dari kerasnya suara dalam perdebatan, melainkan dari kemampuan menghadirkan ketenangan di tengah perbedaan. Spiritualitas bukan tentang memenangkan argumen, tetapi merawat kemanusiaan.
Pendekatan tasawuf yang berwatak kebangsaan seperti ini sesungguhnya memiliki akar panjang dalam sejarah Islam Nusantara.
Para ulama terdahulu memahami bahwa agama hanya dapat tumbuh subur jika berdialog dengan realitas sosial dan kebudayaan masyarakatnya. Harmoni bukan kompromi terhadap iman, melainkan ekspresi kematangan iman itu sendiri.
Yang menarik, pesan moral TGB hadir bukan melalui retorika ideologis, melainkan melalui tindakan simbolik yang sederhana namun kuat: makan bersama. Dalam tradisi manusia, berbagi makanan selalu menjadi bahasa universal persaudaraan. Ia menghapus jarak sosial yang sering kali gagal diatasi oleh wacana formal.
Di era polarisasi digital, tindakan semacam ini memiliki daya kritik tersendiri terhadap budaya keberagamaan yang semakin performatif—ramai di layar, tetapi miskin empati di dunia nyata. TGB seolah mengingatkan bahwa agama tidak membutuhkan panggung konflik untuk menunjukkan eksistensinya; ia cukup hadir sebagai sumber keteduhan.
Publik Indonesia sebenarnya tidak kekurangan tokoh agama. Yang langka adalah teladan spiritual yang mampu menjembatani iman dan kebangsaan secara bersamaan. Ketika sebagian ruang publik sibuk memperdebatkan apa yang haram dan siapa yang paling benar, pendekatan TGB justru menggeser pertanyaan itu menjadi: bagaimana agama membuat manusia hidup lebih damai bersama.
Dari sikap ini, kita belajar bahwa harmoni kebangsaan bukan proyek politik semata, melainkan kerja spiritual yang terus-menerus. Iman yang matang melahirkan keluasan hati; dan keluasan hati adalah fondasi paling kokoh bagi persatuan bangsa.
Di tengah kebisingan identitas, mungkin yang paling dibutuhkan Indonesia hari ini bukan suara yang lebih keras, melainkan jiwa yang lebih teduh.
Redaksi : Dr. Muhammad Danil Siregar., M.Pd
Editor : Dr. (C) Ivan Suadi., M.Sos
Photo : Panitia Acara dan TIM Kreator TGB


