• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menunduk dan Memberi di Tengah Zaman yang Gemar Melempar. Serial: "Masih Membasuh Jiwa"

    REDAKSI
    Jumat, 27 Februari 2026, Februari 27, 2026 WIB Last Updated 2026-02-27T22:46:32Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Tuan Guru Batak (TGB) Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk., M.A
    Tokoh spiritual dari Tanah Simalungun, Pengasuh Pondok Persulukan Serambi Babussalam Simalungun

    Di tengah ruang publik yang kian bising oleh ujaran kebencian, saling sanggah tanpa adab, dan budaya saling menjatuhkan yang seolah menjadi tontonan harian, suara teduh justru terdengar dari pinggiran Tanah Simalungun. Tuan Guru Batak (TGB) Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk kembali mengingatkan tentang satu sikap yang kian langka: menunduk dan memberi.

    Dalam salah satu refleksi Ramadhannya yang berjudul “Menunduk dan Memberi”, TGB mengangkat metafora sederhana namun tajam: pohon berbuah yang dilempari batu. “Pohon yang tak berbuah tak akan dilempari. Ia sepi, tak menarik perhatian. Tapi ketika ia berbuah lebat, tangan-tangan mulai melempar,” tulisnya.

    Pesan itu terasa relevan di era media sosial, ketika kebermanfaatan sering dibalas dengan kecurigaan, kontribusi dibalas dengan sinisme, dan ketulusan dipelintir menjadi motif tersembunyi. Dalam iklim digital yang algoritmanya memelihara kontroversi, siapa pun yang tampil menonjol karena kerja dan dampaknya, bersiaplah menerima “batu”—dari komentar pedas hingga fitnah yang sistematis.

    Namun TGB tidak berhenti pada kritik sosial. Ia justru menggeser fokus pada kedewasaan batin. Bagi dia, batu bukanlah alasan untuk berhenti berbuah. “Jadikan setiap lemparan sebagai pengingat bahwa kamu sedang berbuah,” tegasnya. Kritik dan serangan, dalam kacamata spiritual, bukan selalu tanda kegagalan, melainkan indikasi pengaruh.

    Di titik ini, refleksi TGB melampaui motivasi personal. Ia menyentuh dimensi etik dan teologis: pohon berbuah tidak membalas dengan batu, ia tetap menunduk dan memberi. 

    Sikap menunduk bukan simbol kelemahan, melainkan kematangan. Dalam tradisi tasawuf, kerendahan hati adalah tanda jiwa yang telah ditempa. Hanya jiwa yang rapuh yang mudah reaktif; jiwa yang matang memilih memberi.

    Pernyataan paling menggelitik justru ketika ia mengaitkan relasi sosial dengan ibadah. “Sebelum beribadah panjang, tanyakan pada diri: adakah hati yang telah kau lukai hari ini?” tulisnya. Sebuah pertanyaan yang mengganggu kenyamanan formalitas religius.

    Di tengah semarak Ramadhan—yang kerap dipenuhi simbol dan seremoni—TGB menggeser fokus pada etika relasional. 

    Menyakiti hati, menurutnya, adalah pengkhianatan terhadap esensi kasih yang menjadi inti seluruh ajaran agama. Ibadah ritual tanpa sensitivitas sosial hanya melahirkan kesalehan yang kering.

    Pesan ini terasa aktual ketika polarisasi sosial dan politik masih membekas, bahkan dalam ruang-ruang keagamaan. Ramadhan, dalam perspektif TGB, bukan sekadar pengendalian lapar, melainkan pengendalian ego—terutama ego yang ingin selalu benar dan ingin selalu menang.

    Ia menekankan bahwa mungkin “penghapus dosa terbesar bukan hanya pada sajadah, melainkan pada keberanian meminta maaf dan menambal hati yang retak.” Kalimat ini seperti tamparan halus bagi kultur publik yang lebih bangga mempertahankan gengsi ketimbang merawat relasi.

    Di tengah masyarakat yang semakin kompetitif—di mana pencapaian sering menjadi alat ukur harga diri—pesan menunduk dan memberi terasa kontradiktif. Tetapi justru di situlah relevansinya. Kerendahan hati adalah bentuk resistensi terhadap zaman yang gemar memamerkan diri. Berbagi adalah kritik terhadap mentalitas akumulasi.

    Bagi TGB, kedamaian sejati bukanlah hasil dari pengakuan publik, melainkan dari ketenangan batin: hati yang tetap berdiri meski tak dipahami, tetap memberi meski dilempari, tetap menunduk meski berbuah lebat.

    Ramadhan, dalam tafsir spiritualnya, adalah sekolah hati. Ia mendidik manusia untuk memiliki hati yang luas, ikhlas, dan penuh cinta—bukan hati yang sempit oleh iri dan dendam. Dalam konteks kekinian, pesan ini seperti oase di tengah gurun kebisingan.

    Maka di saat sebagian orang sibuk membalas batu dengan batu, TGB menawarkan jalan sunyi: tetap berbuah, tetap menunduk, tetap memberi.

    Sebab mungkin, di tengah dunia yang mudah melempar, justru yang paling revolusioner adalah mereka yang memilih untuk tetap berbagi.

    Redaksi : Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
    (Pecinta Ulama dan Orang Soleh)
    Photo : AI 
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini