RADARHUKUM.SITE | Medan - Tidak semua pertemuan penting dalam hidup diawali dengan sebuah janji. Ada yang hadir begitu saja, nyaris tanpa disadari, tetapi kelak meninggalkan jejak yang begitu dalam.
Begitulah kisah perjumpaan pertama dengan Akbar Tandjung, tokoh politik nasional sekaligus senior HMI dan KAHMI, yang dikenang bukan sekadar karena kiprahnya di panggung politik, tetapi juga karena pengaruhnya sebagai sosok guru, panutan, dan mentor bagi banyak orang.
Bagi penulis kisah ini, pertemuan dengan Akbar Tandjung bahkan terjadi ketika usianya masih sekitar delapan tahun—dalam sebuah suasana yang sama sekali tidak direncanakan.
Saat itu, Lapangan Merdeka Medan dipenuhi umat Islam yang melaksanakan salat Idul Fitri. Sang ayah yang merupakan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), sedang sibuk menjalankan tugas sebagai bagian dari panitia pelaksanaan salat Idul Fitri yang diselenggarakan secara resmi oleh Pemerintah Kota Medan.
Di tengah kesibukannya memastikan seluruh perlengkapan berjalan sebagaimana mestinya, sang ayah kemudian menitipkan anaknya kepada seseorang.
“Aku titip lah anak ini sama Abang.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi seorang anak berusia delapan tahun, sosok yang kemudian berdiri di sampingnya hanyalah seorang pria yang terlihat tenang, rapi, dan berwibawa.
Saat itu, ia belum mengetahui siapa pria tersebut.
Bahkan, bertahun-tahun kemudian barulah ia menyadari bahwa sosok yang pernah berdiri di sampingnya di tengah keramaian Lapangan Merdeka Medan itu adalah Akbar Tandjung.
Sebuah pertemuan singkat yang pada saat itu mungkin tidak memiliki arti apa-apa bagi seorang anak kecil. Namun, ketika waktu berjalan dan keduanya kembali dipertemukan dalam perjalanan kehidupan, kenangan itu berubah menjadi sebuah potongan puzzle yang terasa begitu bermakna.
Ada semacam pesan kehidupan di balik peristiwa tersebut: takdir terkadang memperkenalkan seseorang kepada kita jauh sebelum kita memahami siapa dirinya dan seberapa besar pengaruhnya dalam perjalanan hidup kita.
Bagi penulis, Akbar Tandjung tidak mungkin ditempatkan hanya dalam satu kategori.
Ia bukan sekadar seorang politisi senior. Bukan pula hanya seorang senior organisasi. Dan terlalu sempit apabila hubungan tersebut hanya disebut sebagai hubungan antara mentor dan murid.
“Bagi saya pribadi, beliau adalah perpaduan dari semuanya: seorang guru, seorang panutan, dan dalam banyak hal, seorang ayah.”
Kedekatan itu juga tidak lahir secara tiba-tiba. Ada mata rantai sejarah yang lebih panjang, yang bermula dari hubungan Akbar Tandjung dengan orang tua penulis.
Sang ayah sejak muda aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Dari lingkungan organisasi itulah terjalin hubungan dengan Akbar Tandjung.
Sejak kecil, penulis tumbuh di tengah cerita-cerita tentang dunia organisasi, aktivisme, perjuangan, dan idealisme. Nama-nama tokoh yang pernah bersinggungan dengan perjalanan sang ayah menjadi bagian dari cerita yang terus hidup di lingkungan keluarga.
Dari situlah perlahan terbentuk cara pandang tentang bagaimana sebuah perjuangan organisasi tidak sekadar berbicara tentang jabatan atau kekuasaan, tetapi juga tentang nilai, persahabatan, pengabdian, dan konsistensi menjaga idealisme.
Dan di antara sekian banyak nama yang hadir dalam cerita itu, Akbar Tandjung kemudian menjadi sosok yang memiliki tempat tersendiri.
Pertemuan pertama di Lapangan Merdeka Medan mungkin hanya berlangsung sesaat.
Namun, sejarah hidup sering kali bekerja dengan cara yang tidak terduga.
Seseorang yang dahulu hanya dikenal sebagai pria berwibawa yang berdiri di samping seorang anak kecil, kelak berubah menjadi figur yang dipandang sebagai guru, panutan, mentor, bahkan sosok ayah dalam perjalanan kehidupan.
Barangkali memang demikian cara takdir bekerja: ia mempertemukan kita terlebih dahulu, kemudian memberikan waktu agar kita memahami arti sebuah pertemuan.
Penulis: Ahmad Doli Kurnia, seorang Tokoh Politik di Kancah Nasional yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPR RI F-Golkar






