• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Menakar Peluang Kolonel CAJ TNI DR. Sadikin Bintang Untuk KAHMI Sumut

    REDAKSI
    Minggu, 03 Mei 2026, Mei 03, 2026 WIB Last Updated 2026-05-03T08:40:47Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh Dr. Mawardi Siregar, MA
    Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Dakwah IAIN SU 2002-2023
    Murid Spiritual Tuan Guru Batak

    RADARHUKUM.SITE, LANGSA Minggu (3/5/26). - Sayup-sayup saya mendapat informasi, bahwa bang Kolonel Sadikin Bintang yang akrab disapa dengan “Bang Bintang” mencalonkan diri sebagai presidium KAHMI Sumatra Utara periode 2026-2031. Informasi ini sangat membanggakan, karena jarang-jarang ada alumni Fakultas Dakwah UIN SU yang mencalonkan diri sebagai Presidium KAHMI, meskipun selama ini banyak juga alumni Fakultas Dakwah UIN SU yang menjadi pengurus KAHMI, Wilayah maupun Daerah. 

    Menarik untuk mencerdasi pencalonan bang Bintang. Alasanya; 

    Pertama, saya kira bang Bintang adalah pemberani, perintis dan pejuang. Boleh dikatakan berkelaslah. Karena tidak pernah kita dengar namanya bercokol di kepengurusan KAHMI, selain KAHMI Rayon FDK UIN SU, itupun baru sekitar setahun belakangan ini, tapi beliau berani mencalonkan diri sebagai Presidium KAHMI Sumut. Pantaslah Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA memberikan ungkapan “PROUD BANG SADIKIN BINTANG”.  Saya menangkap, bahwa ucapan TGB itu bukan sekedar pepesan kosong. Ucapan TGB itu syarat dengan “KODE” yang harus di baca, bahwa TGB membersamai langkah Bang Bintang secara totalitas.  

    Kedua, bang Bintang bukan figur yang lahir dari ruang hampa. Bang Bintang merupakan figur dengan latar belakang kepemimpinan yang kuat, disiplin tinggi, matang dalam berorganisasi dan memiliki pengalaman panjang menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Semasa mahasiswa, selain aktif di HMI Fakultas Dakwah IAIN Sumut (sekarang UIN SU), ia pernah menjadi Komandan Menwa dan Senat Mahasiswa Institut. Setelah tamat kuliah, jalan hidup bang Bintang berlanjut ke dunia militer hingga mencapai pangkat kolonel. Idealisme sipil dan ketegasan struktural ini merupakan pengalaman berlapis yang kemudian saya kira menjadi added value (nilai tambah) bagi bang Bintang untuk meyakinkan konstituen. Mengutip istilah Huntington dalam buku The Soldier and the State: The Theory and Politics of Civil - Military Relation, “bahwa perwira yang matang adalah perwira yang mampu membawa nilai-nilai profesionalisme, disiplin, tanggung jawab dan rasionalitas ke dalam ruang publik tanpa kehilangan batas etiknya”.

    Ketiga, kontestasi kepemimpinan KAHMI Sumatera Utara bukan sekadar pergantian figur, tetapi juga pertaruhan arah. Di tengah dinamika itu, pencalonan Kolonel Sadikin Bintang menghadirkan diskursus menarik, karena bang Bintang adalah salah satu kandidat yang membawa kombinasi pengalaman yang tidak biasa. Seperti yang sudah saya sampaikan, bahwa bang Bintang tidak hanya ditempa oleh kultur internal kaderisasi HMI. Namun dalam waktu yang amat sangat panjang, bang Bintang di tempa dalam institusi militer yang sudah terbiasa dengan disiplin, ketegasan, dan pengambilan keputusan dalam situasi yang paling genting sekalipun. Tentu KAHMI Sumut dalam konteks kekinian dan Ke-Indonesiaan sangat membutuhkan seorang figur pemimpin yang mampu menghadirkan keseimbangan antara ketegasan, kedisiplinan dan kebijaksanaan, sehingga marwah organisasi akan terus terawat.

    Keempat, KAHMI Sumut membutuhkan energi baru agar tidak berhenti sebagai forum silaturahmi, melainkan tampil sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang mampu merespons persoalan keumatan dan kebangsaan secara nyata. Meskipun KAHMI bukan ruang komando yang serba linier. Tapi saya yakin kalau bang Bintang memiliki kemampuan strategi taktik yang mumpuni untuk mengendalikan orang-orang yang memiliki beragam kepentingan di rumah besar KAHMI Sumut. Bang Bintang adalah aktivis HMI yang saya kira sangat paham dengan dialektika kader itu.

    Terlepas dari optimisme yang saya sebutkan di atas, saya tetap ingin mengatakan secara kritis bahwa jalan bang Bintang menuju Presidium KAHMI Sumut, tidaklah mudah. Meskipun bang Bintang sudah terlatih dengan “Strategi Perang Terbuka mupun Tertutup” dan terbiasa menghadapi dinamika paling genting sekalipun, tapi kultur di KAHMI yang belum berubah, seperti budaya senioritas, kedekatan dengan penguasa ataupun primordialitas ke fakultasan, bisa jadi akan menjadi ujian bagi Bang Bintang. 

    Selain itu, apakah KAHMI Sumut siap untuk menerima figur pemimpin dengan karakter tegas dan terstruktur, atau tetap bertahan dalam pola kepemimpinan yang cair dan kompromistis? Kultur ini juga yang saya kira perlu di baca oleh bang Bintang, sehingga bang Bintang dapat memadukan disiplin militernya dengan kearifan sipil yang inklusif. Selain itu, saya kira menempuh jalur langitan, dengan meminta agar TGB bersedia melangitkan doa-doa khusus dari ruang-ruang sunyi dalam menyertainya perjuangan bang Bintang, juga sangat penting. 

    Akhirnya, sebagai alumni HMI Fakultas Dakwah, kita semua pasti merasa bangga dengan kehadiran bang Sadikin Bintang dalam mewarnai kontestasi MUSWIL KAHMI SUMUT. Semoga kehadiran bang Bintang di KAHMI dapat memberi warna baru dan membuka ruang harapan bagi arah KAHMI Sumatera Utara yang lebih maju. (red)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini