masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi
(Aktivis Sosial-Politik)
Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak pernah bisa dilepaskan dari peran dua kekuatan besar yang sama-sama lahir dari semangat mempertahankan republik: Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pasca kemerdekaan hingga runtuhnya Partai Komunis Indonesia (PKI), Indonesia berdiri di atas fondasi perjuangan yang ditopang oleh kekuatan pertahanan negara dan kekuatan intelektual-keummatan. Di titik inilah, TNI dan HMI menjadi dua elemen penting yang turut menjaga arah bangsa.
TNI hadir sebagai benteng pertahanan negara, menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dari ancaman ideologi maupun agresi fisik. Sementara HMI tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual yang menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, serta demokrasi di tengah dinamika sosial-politik Indonesia. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam mengawal Indonesia agar tetap berdiri kokoh di atas Pancasila dan konstitusi.
Dalam konteks itulah, sosok Kolonel Dr. H. Sadikin Bintang, M.M menjadi menarik untuk dibicarakan. Ia bukan hanya seorang prajurit TNI, tetapi juga kader HMI yang tumbuh dari tradisi intelektual dan perjuangan organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia.
Kehadirannya menjadi simbol bertemunya “Hijau Hitam” dan “Hijau Loreng” — dua warna perjuangan yang berbeda medan, namun memiliki tujuan yang sama: menjaga Indonesia.
Hijau Hitam adalah simbol HMI, warna yang merepresentasikan keislaman, intelektualitas, dan perjuangan moral. Sedangkan Hijau Loreng adalah identitas TNI, simbol keberanian, disiplin, dan pengabdian kepada negara. Ketika keduanya menyatu dalam diri seorang Sadikin Bintang, maka lahirlah figur yang memahami bahwa kekuatan bangsa tidak hanya dibangun dengan senjata, tetapi juga dengan gagasan, moralitas, dan keberpihakan kepada rakyat.
Di tengah tantangan kebangsaan hari ini — mulai dari polarisasi politik, krisis moral, ancaman radikalisme, hingga perang informasi — Indonesia membutuhkan figur-figur pemersatu. Sosok yang mampu menjembatani dunia intelektual sipil dan dunia pertahanan negara. Karena sejatinya, bangsa ini tidak cukup hanya dijaga oleh kekuatan militer semata, tetapi juga oleh kekuatan pemikiran dan nilai.
Kader HMI yang masuk ke dunia militer sesungguhnya membawa pesan penting bahwa nasionalisme dan religiusitas tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. Dalam sejarah Indonesia, HMI telah melahirkan banyak tokoh nasional di berbagai bidang: politik, birokrasi, akademisi, pengusaha, hingga militer. Itu membuktikan bahwa HMI bukan hanya organisasi mahasiswa, melainkan kawah candradimuka kepemimpinan nasional.
Kolonel Dr. Sadikin Bintang, M.M adalah salah satu representasi dari kader yang mampu merawat nilai keislaman, nasionalisme, dan profesionalisme sekaligus. Di tengah derasnya pragmatisme politik dan menurunnya keteladanan publik, figur seperti ini penting untuk terus dimunculkan sebagai inspirasi generasi muda.
Perkawinan antara Hijau Hitam dan Hijau Loreng bukanlah ancaman bagi demokrasi, melainkan energi besar untuk memperkuat bangsa. Sebab ketika intelektualitas bertemu dengan disiplin, ketika moralitas bertemu dengan patriotisme, maka Indonesia memiliki harapan untuk tetap tegak menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini besar bukan karena satu kelompok semata, melainkan karena adanya kolaborasi kekuatan rakyat, ulama, mahasiswa, dan tentara dalam menjaga Indonesia. Dan dalam diri Kolonel Dr. Sadikin Bintang, kita melihat semangat kolaborasi itu masih hidup hingga hari ini.
Selamat atas terpilihnya Kolonel Dr. Sadikin Bintang, M.M sebagai Presedium Korps Alumni HMI (KAHMI) Sumut. Yakin Usaha Sampai
Medan, 09 Mei 2026




