• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Meretas Jalan Kefitrahan: Menelisik Tiga Makna Halal bi Halal Menurut Tafsir ala TGB

    REDAKSI
    Kamis, 09 April 2026, April 09, 2026 WIB Last Updated 2026-04-09T10:14:31Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Dr. Mawardi Siregar, MA
    Murid Spiritual TGB

    RADARHUKUM.SITE, JAKARTA 09/04/26).
    Al Mukarram Tuan Guru Batak Syekh Dr. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA yang masyhur dikenal dengan sebutan (TGB) di sela-sela kegiatan acara halal bil halal yang diinisiasi oleh Yayasan Gerakan Sumatra Utara Bergiat (Sabtu, 4/4/2026) yang dibina oleh Anggota DPR-RI Komisi XIII, Sugiat Santoso, menjelaskan tiga makna terdalam dari halal bil halal, yaitu menjaga fitrah kekuasaan, merawat ukhuwah dan membangun peradaban. 

    Pertama, menjaga fitrah kekuasaan. Halal bil halal merupakan ruang refleksi menjaga fitrah kekuasaan. Menurut TGB, jabatan dan kekuasaan merupakan absolut milik Allah SWT yang dititipkan kepada manusia. “Maka kalau ada orang yang dititipi amanah jabatan dan kekuasaan, lalu kemudian ia berubah menjadi sombong dan zalim, maka itulah kekuasaan yang berpotensi menuju kehinaan dan menentang fitrahnya” kata TGB. Ungkapan TGB ini paralel dengan pandangan pakar politik Lord Acton yang menyatakan bahwa ‘power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”. Imam Al-Ghazali juga pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kendali akhlak akan menyeret manusia pada kesombongan dan kebinasaan. Fitrah kekuasaan inilah yang menurut TGB harus terus terus menerus dipelihara, dan setiap orang yang menjabat dan berkuasa harus terus memastikan dirinya agar tetap berada dalam garis fitrah kekuasaan yang hanif (lurus). 

    Kedua, kefitrahan dalam memelihara ukhuwah. TGB menjelaskan ada dua hubungan relasional antara manusia, yaitu hubungan predikat dan hubungan autentik. Hubungan predikat dibangun di atas kepentingan. Hubungan itu hadir karena jabatan, posisi, atau kemanfaatan tertentu. Sementara hubungan autentik bertumbuh dari ketulusan dan tidak bergantung pada status. Bahkan hubungan itu tidak akan berubah karena berkuasa ataupun tidak berkuasa. Secara realitas, banyak relasi sosial kita masih terjebak dalam pola pertama, yaitu hangat ketika ada kepentingan, dan dingin ketika kepentingan berakhir. Halal bi Halal hadir untuk mengkoreksi itu. Halal bil halal mengajak setiap individu untuk menanggalkan atribut, melepaskan sekat-sekat formal dan kembali bertemu dalam spirit fitrah kemanusiaan yang hanif (lurus). Di sinilah ukhuwah otentik itu fungsional. 

    Ketiga, kefitrahan dalam membangun peradaban. TGB mengingatkan bahwa peradaban tertinggi bukan semata soal kemajuan fisik atau simbol-simbol kemegahan. Tetapi kemampuan membaca kode dan makna yang abstrak menandakan kecerdasan manusia beradab. Karena Al-Qur’an merupakan fondasi peradaban Islam yang penuh dengan “kode-kode” ilahi dan menuntut kejernihan hati dalam memahaminya. Halal bi Halal, merupakan jalan menuju latihan batin untuk mampu menangkap makna di balik kode-kode dalam ayat Al Quran. 

    Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa tafsir halal bil halal ala TGB, mengingatkan kita tentang satu tradisi yang tampak sederhana, namun menyimpan pesan langit yang amat sangat mendalam. Tentu pesan itu hanya bisa ditangkap oleh mereka yang rajin membasuh hati dengan zikir, mengasah pikiran dengan banyak merenung.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini