masukkan script iklan disini
Oleh : Awaluddin, Ketua KPAD Asahan
Di sebuah pagi yang berjalan seperti biasa di Kota Kisaran, langkah-langkah kecil para siswa kembali memenuhi halaman sekolah, membawa buku, harapan, dan cerita yang tak selalu terlihat di permukaan.
Di antara rutinitas itu, terselip satu peristiwa yang mengingatkan semua pihak bahwa dunia anak-anak juga membutuhkan perhatian yang penuh kehati-hatian.
Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Asahan bersama UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) melakukan kunjungan ke salah satu sekolah swasta, menyusul informasi dari masyarakat terkait dugaan tindakan kekerasan antarsiswa.
Kunjungan ini bukan sekadar klarifikasi, melainkan bentuk kepedulian—bahwa setiap kabar tentang anak harus ditanggapi dengan keseriusan, sekaligus kebijaksanaan.
Pertemuan yang berlangsung hangat antara pihak KPAD, UPT PPA, dan sekolah menunjukkan satu hal penting adanya kesamaan niat untuk menjaga dan melindungi anak-anak. Kepala sekolah secara terbuka menyampaikan bahwa memang terdapat perilaku agresif dari salah satu siswa, namun situasi tersebut telah ditangani. Siswa yang sempat terdampak kini telah kembali mengikuti kegiatan belajar, sementara siswa yang bersangkutan tetap bersekolah dengan pengawasan yang lebih intensif.
Langkah pemanggilan orang tua dari kedua belah pihak juga menjadi bagian dari upaya bersama untuk menyelesaikan persoalan dengan pendekatan kekeluargaan. Sebuah pendekatan yang penting, karena dunia anak tidak hanya dibentuk oleh sekolah, tetapi juga oleh lingkungan terdekatnya.
Peristiwa ini menghadirkan satu pelajaran sederhana namun mendalam bahwa setiap anak sedang dalam proses bertumbuh. Dalam proses itu, mereka belajar mengenali emosi, memahami batasan, dan membentuk cara berinteraksi dengan orang lain.
Tidak semua proses berjalan sempurna, namun di situlah peran orang dewasa menjadi sangat penting untuk membimbing, bukan menghakimi.
Sekolah, sebagai ruang kedua setelah rumah, memiliki peran strategis untuk memastikan lingkungan yang aman dan nyaman. Pengawasan yang lebih intensif, seperti yang telah dilakukan, dapat menjadi langkah awal yang baik. Di sisi lain, penguatan pendidikan karakter, komunikasi terbuka antara guru dan siswa, serta kehadiran ruang konseling yang ramah dapat menjadi pelengkap yang memperkuat upaya pencegahan.
Bagi orang tua, ini juga menjadi momentum untuk semakin dekat dengan anak mendengarkan tanpa menghakimi, serta memahami dinamika yang mereka hadapi di lingkungan pergaulan.
Sementara itu, kehadiran KPAD dan UPT PPA menunjukkan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ketika masalah muncul, tetapi juga dalam memastikan proses pemulihan dan pembelajaran berjalan dengan baik bagi semua pihak.
Pada akhirnya, setiap peristiwa seperti ini bukanlah semata tentang siapa yang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana semua pihak dapat belajar dan bertumbuh bersama. Karena di balik setiap anak, ada masa depan yang sedang dibentuk dan itu layak dijaga dengan penuh empati, perhatian, dan kebersamaan. (Aes)




