• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    banner

    Iklan


     

    Bersama Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, S.H., M.Si

    MEDIA ONLINE NASIONAL
    Jumat, 17 April 2026, April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T16:26:24Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Oleh : Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos

    (Aktifis Sosial - Politik)

    Bersama Prof. Dr. H. Eggi Sudjana, S.H., M.Si kita tidak sekedar sedang berbincang dengan seorang individu, melainkan sedang menyentuh satu fragmen penting dalam sejarah pergulatan ideologi bangsa—sebuah masa ketika pilihan bukan sekedar soal organisasi, tetapi soal iman, identitas, dan keberanian mengambil posisi.

    Pada era ketika rezim Soeharto mengonsolidasikan kekuasaan melalui kebijakan Asas Tunggal Pancasila, organisasi kemasyarakatan dan kemahasiswaan dipaksa menyelaraskan diri dalam satu tafsir ideologi negara. Puncaknya adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan, yang menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas yang sah bagi seluruh organisasi. Di titik inilah sejarah mencatat: tidak semua tunduk tanpa tanya.

    Di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), terjadi pergulatan ideologis yang tajam. Pilihan yang dihadapi bukan sederhana: menerima asas tunggal demi keberlangsungan organisasi, atau mempertahankan identitas keislaman dengan risiko dibekukan, dimarginalkan, bahkan dihapus dari peta gerakan mahasiswa nasional.

    Figur seperti Prof. Eggi Sudjana hadir dalam lanskap itu bukan sebagai penonton, melainkan pelaku sejarah. Ia dan generasinya berdiri di tengah pusaran—di antara tekanan kekuasaan dan panggilan keyakinan. Dalam konteks itu, HMI bukan sekedar organisasi kader, tetapi ruang ijtihad politik: bagaimana Islam diposisikan dalam negara yang mengklaim dirinya final secara ideologis.

    Jika kita menilik lebih jauh, polemik Asas Tunggal tidak bisa dilepaskan dari trauma politik pasca Gerakan 30 September 1965, di mana negara berupaya mensterilkan seluruh potensi konflik ideologi dengan pendekatan penyeragaman. Namun, justru di situlah kritik lahir: apakah stabilitas harus dibayar dengan pembungkaman keragaman tafsir?

    Dalam sudut pandang religius-politik, penolakan terhadap pemaksaan asas tunggal bukanlah bentuk anti-negara, melainkan upaya menjaga ruang iman agar tidak direduksi menjadi sekadar simbol administratif. Islam, bagi sebagian kader HMI saat itu, bukan sekadar identitas formal, tetapi sumber nilai yang hidup—yang tidak bisa dinegosiasikan hanya karena tekanan regulasi.

    Namun sejarah juga mencatat ironi: pada akhirnya, banyak organisasi—including HMI—melakukan adaptasi. Sebuah pilihan yang sering diperdebatkan hingga hari ini: apakah itu bentuk kompromi strategis atau kekalahan ideologis?

    Di titik inilah refleksi menjadi penting. Apa yang dilakukan generasi Eggi Sudjana bukan sekedar soal menerima atau menolak, tetapi tentang menjaga nyala kesadaran bahwa politik tidak boleh sepenuhnya menguasai ruang spiritual. Bahwa negara, sekuat apapun, tidak boleh memonopoli makna kebenaran.

    Hari ini, ketika wacana ideologi kembali menghangat dalam bentuk yang berbeda, pelajaran dari masa itu tetap relevan:
    bahwa keberanian mengambil posisi sering kali lebih mahal daripada jabatan,
    dan bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang, tetapi juga oleh mereka yang bertahan.

    Maka bersama Eggi Sudjana, kita sedang membaca ulang satu bab penting:
    tentang iman yang diuji oleh kekuasaan,
    tentang organisasi yang diuji oleh zaman,
    dan tentang manusia yang memilih untuk tidak diam ketika keyakinannya hendak diseragamkan.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Tag Terpopuler

    Hukum (75) Nasional (50) Medan (30) Binjai (6) Daerah (6) Tokoh (5) Langkat (4) Redaksi (4) Aceh (3) HMI (3) Hari Lahir Pancasila (3) MEDAN (3) gni (3) kakorlantas polri (3) BBM (2) BNN (2) DESALAMPISANG (2) GNI (2) HUKUM (2) KKN (2) KNPI (2) Kriminal (2) Narkoba (2) PENDIDIKAN (2) SMAN 7 MEDAN (2) SUMUT (2) Sosial (2) Sumut (2) USK (2) #BNNP #Sumut #Narkoba #Hukum (1) #HUT #TIDAR #SUMUT #INDONESIA #POLITIK #SOSIAL (1) #Hukum #Agama #Politik #Islam (1) #hukum #politik #narkoba (1) #kadisdik #labuhanbatu (1) #opini #publik #politik #hukum #kpk #langkat #sumut (1) #politik #hukum (1) #politik #hukum #sosial (1) ACEHBESAE (1) ACEHBESAR (1) API (1) Aceh Tamiang (1) Aktivis HMI (1) Alor (1) BAHAYA LATEN (1) BANGSA (1) BEBAS (1) BGN (1) BNNP Sumut (1) Bahaya Laten (1) Bencana (1) Biaya (1) CANDU NEGATIF (1) Dairi (1) Dakwah (1) Edukasi (1) Ekonomi Masyarakat Perdesaan (1) GENERASI (1) Gratifikasi (1) Huntap (1) INDONESIA (1) IYE (1) Indonesia (1) Islamiyah (1) Jakarta (1) KAHMI LABUHANBATU SELATAN (1) KAHMI MEDAN (1) KARAKTER (1) Kadis DLH (1) Kapolda (1) Kapolres (1) Kapolri (1) Kemenag (1) Korban Bencana (1) Korupsi (1) Kuala Simpang (1) Labahunbatu (1) Langka (1) Laporan Polisi (1) MAHASISWA (1) MAHASISWI (1) MBG (1) MKN APUDSI (1) MUDA (1) MUI (1) Mahasiswa (1) Mataram (1) Milad (1) NARKOBA (1) NARKOTIKA (1) NASIONAL (1) Narkotika (1) Pematangsiantar (1) Pemuda Pancasila (1) Pengawasan (1) Polemik HGU (1) Politik (1) Polres (1) Program MBG (1) Pujakesuma (1) Pusat (1) REKTOR (1) Rakeyan Nuswajati Bezie Galih Manggala (1) SELAMATKAN (1) SENAT (1) SOSIAL (1) SUMATERA UTARA (1) Sosial - Politik - Agama (1) Sumatera (1) Tamiang (1) Tanah (1) Tanah Rencong (1) Tipu Gelap (1) Transformasi Humanis (1) UNIMED (1) UNIVERSITASSYAHKUALA (1) agus suryonugroho (1) akbar himawan bukhori (1) aksi jilid ll (1) apii (1) armed (1) banjir sumatera (1) bantuan bencana (1) cendikiawan muslim (1) dema uinsu (1) desak periksa rektor (1) diskusi publik (1) dukung polri (1) figur inklusif (1) gelar doktor (1) hasyim se (1) icmi (1) irjen pol agus (1) irjen pol agus suryonugroho (1) jabodetabek (1) kakorlantar polri (1) kejaksaan agung (1) kepala BGN (1) kepentingan masyarakat (1) kepercayaan publik (1) kompolnas (1) korps lalu lintas (1) korupsi batu bara (1) mahasiswa (1) makan bergizi gratis (1) mobil mbg tabrak siswa (1) ngaji ai (1) opini liar (1) pemikiran cak nur (1) pemimpin medan (1) polisi humanis (1) polri (1) polri humanis (1) presiden prabowo (1) ramadhan (1) reformasi polri (1) rektor uinsu (1) sambut ramadhan (1) siswa (1) transformasi polri (1) uinsu (1) univ paramadina (1) yayasan al azhar (1)