masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Bismillahirrohmanirrohiim
Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, perubahan besar hampir selalu lahir dari rahim perjuangan panjang para aktivis. Mereka yang pernah merasakan kerasnya jalanan, pahitnya idealisme, dan sunyinya perjuangan tanpa sorotan kamera, seringkali justru menjadi figur yang paling memahami arti kekuasaan sebagai alat pengabdian, bukan sekadar alat kepentingan.
Dalam konteks itu, sosok Sugiat Santoso menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana proses panjang aktivisme dapat bermetamorfosis menjadi kepemimpinan politik yang tetap menjaga ruh perjuangan rakyat.
Aktivisme: Sekolah Kepemimpinan yang Sesungguhnya
Perjalanan Sugiat Santoso bukanlah perjalanan instan. Ia ditempa dalam tradisi organisasi kader seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi yang sejak lama dikenal sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya intelektual dan pemimpin bangsa.
Dalam teori kepemimpinan politik, aktivisme mahasiswa sering disebut sebagai laboratorium demokrasi, tempat seorang calon pemimpin belajar tentang konflik, negosiasi, advokasi, dan keberpihakan kepada masyarakat. Tradisi inilah yang membentuk karakter kepemimpinan berbasis nilai, bukan sekadar kekuasaan.
Dari HMI, perjalanan itu berlanjut ke dunia kepemudaan melalui Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara. Di titik ini, kapasitas kepemimpinannya semakin terasah dalam skala yang lebih luas: bukan hanya mahasiswa, tetapi juga dinamika sosial kepemudaan dan masyarakat.
Jejak ini memperlihatkan satu hal penting: kepemimpinan yang lahir dari proses panjang cenderung memiliki daya tahan moral yang lebih kuat dibanding kepemimpinan yang lahir dari transaksi politik instan.
Dari Jalanan ke Parlemen: Konsistensi atau Transformasi?
Masuknya Sugiat Santoso ke DPR RI melalui Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bukanlah akhir dari perjuangan aktivismenya, melainkan transformasi medan perjuangan.
Jika dahulu aktivis berteriak di jalanan sebagai pressure group, maka di parlemen mereka berubah menjadi policy maker.
Yang menarik, dalam berbagai aktivitasnya sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara, Sugiat tetap terlihat membawa karakter aktivisnya: kritis, vokal, dan dekat dengan persoalan masyarakat bawah. Ia juga aktif dalam kerja-kerja komisi DPR, termasuk mendorong perbaikan layanan publik dan isu kemasyarakatan di Sumatera Utara.
Ini menjadi bukti bahwa idealisme tidak selalu mati ketika seorang aktivis masuk ke dalam sistem. Justru dalam beberapa kasus, sistemlah yang bisa diperbaiki oleh mereka yang membawa idealisme ke dalamnya.
Politik sebagai Jalan Pengabdian, Bukan Jalan Transaksi
Hari ini, salah satu krisis terbesar dalam dunia aktivisme adalah hilangnya orientasi nilai. Banyak aktivis muda yang tergoda pada politik instan, pragmatis, dan transaksional. Politik tidak lagi dilihat sebagai jalan pengabdian (path of service), tetapi sebagai jalan karir (path of power).
Di sinilah relevansi keteladanan Sugiat Santoso menjadi penting.
Perjalanan panjangnya mengajarkan satu prinsip klasik dalam filsafat kepemimpinan:
Kepemimpinan yang besar tidak lahir dari ambisi yang besar, tetapi dari kesabaran dalam proses yang panjang.
Proses panjang itu mencakup pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan sumber daya pribadi. Politik yang lahir dari proses seperti ini biasanya melahirkan pemimpin dengan daya tahan terhadap godaan pragmatisme.
Spirit Islam dan Etika Perjuangan
Hal lain yang juga menjadi karakter penting dalam perjalanan Sugiat adalah latar belakang religiusitasnya. Tradisi Islam dalam gerakan aktivisme Indonesia memang memiliki sejarah panjang dalam membentuk etika perjuangan yang berbasis moral.
Dalam perspektif pemikiran politik Islam klasik seperti yang dikemukakan Al-Ghazali, kekuasaan tanpa moralitas akan melahirkan kerusakan, sementara moralitas tanpa kekuasaan akan kehilangan efektivitas.
Artinya, kombinasi antara nilai spiritual dan kekuasaan politik justru menjadi syarat penting bagi lahirnya peradaban yang sehat.
Dalam konteks inilah, figur yang memiliki basis aktivisme, religiusitas, dan pengalaman politik menjadi penting untuk menjaga agar politik tidak kehilangan arah etiknya.
Teladan bagi Generasi Aktivis Baru
Bagi saya pribadi, Sugiat Santoso adalah contoh bahwa jalan panjang tidak pernah mengkhianati hasil. Ia bukan produk politik karbitan. Ia adalah produk proses.
Dari lorong-lorong diskusi aktivis, dari forum kaderisasi, dari dinamika organisasi, hingga akhirnya sampai ke Senayan.
Inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi aktivis hari ini:
Bahwa perjuangan tidak harus cepat, tetapi harus kuat.
Bahwa kemenangan tidak harus instan, tetapi harus bermartabat.
Bahwa politik bukan tentang siapa yang paling cepat naik, tetapi siapa yang paling siap memikul amanah.
Jika aktivis hari ini ingin belajar tentang konsistensi perjuangan, maka mereka perlu melihat figur-figur yang tidak melompat tahapan proses.
Karena sejatinya:
Aktivis sejati tidak pernah pensiun dari perjuangan. Mereka hanya berpindah medan juang. Dari jalanan ke parlemen. Dari teriakan menjadi kebijakan. Dari gerakan menjadi perubahan.
Dan dalam konteks itu, Bang Haji Sugiat Santoso adalah salah satu contoh nyata bahwa idealisme yang dirawat dengan kesabaran dapat menemukan jalannya menuju pengabdian yang lebih luas.
Redaksi : Dr. Muhammad Danil Siregar, M.Pd
Editor : Ivan Suadi, M.Sos


