masukkan script iklan disini
Oleh: Ustadz Gunawan, S.Sos.I
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Simalungun
RADARHUKUM.SITE | SIMALUNGUN, JUMAT 05 JUNI 2026 - Di era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi, persaingan ekonomi, dan berbagai tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, manusia sering kali larut dalam kesibukan duniawi. Berbagai aktivitas yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup terkadang membuat manusia lupa terhadap tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Padahal, keberhasilan hidup dalam perspektif Islam tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Allah SWT berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama kehidupan manusia adalah penghambaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, segala aktivitas duniawi hendaknya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual.
Dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama yang disampaikan melalui khutbah Jumat di Masjid Jami' At-Taqwa Huta VI Nagori Marihat Baris, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, penulis mengangkat tema tentang empat tanda kesengsaraan akhirat sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَلَامَةُ الشَّقَاءِ أَرْبَعٌ: جُمُودُ الْعَيْنِ، وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَحُبُّ الدُّنْيَا، وَطُولُ الْأَمَلِ
"Tanda-tanda kesengsaraan ada empat: mata yang kering (sulit menangis karena takut kepada Allah), hati yang keras, cinta dunia, dan panjang angan-angan." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman)
Hadis ini mengandung pesan mendalam mengenai kondisi spiritual yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesengsaraan di akhirat. Empat tanda tersebut sangat relevan untuk dijadikan bahan introspeksi diri di tengah kehidupan modern saat ini.
Mata yang Kering dari Tangisan karena Allah
Tanda pertama adalah mata yang kering, yaitu hilangnya kepekaan hati terhadap dosa, peringatan agama, dan kebesaran Allah SWT. Seorang mukmin sejati akan memiliki hati yang mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allah atau mengingat kesalahan yang pernah diperbuat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah." (HR. Tirmidzi)
Tangisan karena takut kepada Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti hidupnya hati dan kuatnya keimanan seseorang.
Hati yang Keras
Tanda kedua adalah hati yang keras. Hati yang keras akan sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, serta kehilangan rasa kasih sayang terhadap sesama.
Allah SWT berfirman:
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi." (QS. Al-Baqarah: 74)
Hati yang keras merupakan salah satu penyakit ruhani yang sangat berbahaya karena dapat menghalangi seseorang dari petunjuk Allah SWT. Oleh sebab itu, hati perlu senantiasa dibersihkan melalui dzikir, tilawah Al-Qur'an, dan amal saleh.
Cinta Dunia Secara Berlebihan
Tanda ketiga adalah hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan. Islam tidak melarang umatnya untuk mencari harta, bekerja keras, dan meraih kesuksesan. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama kehidupan.
Allah SWT mengingatkan:
"Padahal kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan." (QS. Al-Hadid: 20)
Ketika dunia menjadi orientasi utama, manusia cenderung melupakan akhirat dan mengabaikan nilai-nilai moral serta spiritual yang diajarkan agama.
Panjang Angan-Angan
Tanda keempat adalah panjang angan-angan, yaitu sikap merasa masih memiliki waktu yang panjang sehingga menunda-nunda taubat dan amal kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir." (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, setiap kesempatan hidup hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Muhasabah dan Perbaikan Diri
Melalui pesan hadis tersebut, umat Islam diajak untuk terus melakukan muhasabah diri. Istighfar hendaknya menjadi amalan yang senantiasa menghiasi lisan dan hati sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Selain itu, dzikir, shalat, membaca Al-Qur'an, dan berbagai amal kebajikan lainnya perlu terus ditingkatkan agar hati tetap hidup dan terhindar dari berbagai penyakit ruhani yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kesengsaraan akhirat.
Pada akhirnya, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim yang cerdas adalah mereka yang mampu menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih ridha Allah SWT dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Semoga kita semua dijauhkan dari empat tanda kesengsaraan yang diperingatkan Rasulullah SAW dan diberikan kekuatan untuk senantiasa memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta menyiapkan bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal di sisi Allah SWT. Aamiin.
(Redaksi)



