masukkan script iklan disini
radarhukum.site, Simalungun (28/02/26) — Di tengah dunia modern yang semakin riuh oleh percepatan zaman, krisis makna, dan kegelisahan batin manusia kontemporer, suara spiritual kembali menemukan relevansinya. TGB. Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk., M.A, seorang tokoh spiritual dari Tanah Simalungun sekaligus pengasuh Pondok Persulukan Serambi Babussalam Simalungun, menghadirkan refleksi sufistik yang menempatkan ujian hidup bukan sebagai beban eksistensial, melainkan sebagai jalan pemuliaan jiwa.
Dalam serial refleksi spiritual “Membasuh Jiwa”, episode ketiga bertajuk Ujian yang Memuliakan, TGB memandang penderitaan manusia melalui perspektif tasawuf klasik yang berpijak pada tradisi penyucian diri (tazkiyatun nafs) — sebuah proses transformasi batin yang tidak lahir dari kenyamanan, tetapi justru dari pergulatan.
Menurutnya, berbagai bentuk ujian — rasa sakit, kehilangan, kegagalan, bahkan pengkhianatan — bukanlah peristiwa acak yang hampa makna. Dalam horizon spiritual, semua itu merupakan mekanisme ilahiah untuk memurnikan kesadaran manusia dari ilusi keakuan.
“Semakin berat ujian, semakin dalam potensi kedekatan,” demikian inti pesan yang disampaikan. Dalam kerangka sufistik, penderitaan tidak dilihat sebagai hukuman, tetapi sebagai undangan metafisik dari Tuhan agar manusia kembali kepada pusat dirinya yang paling hakiki.
Pandangan ini memiliki resonansi kuat dengan tradisi pemikiran para sufi besar yang menempatkan pengalaman luka sebagai medium pencerahan. Ujian menjadi ruang pedagogi spiritual — tempat ego diluruhkan, kesombongan ditanggalkan, dan kesadaran diperluas menuju ketundukan yang sadar, bukan keterpaksaan.
TGB menjelaskan bahwa tekanan hidup yang terasa menghimpit sering kali justru sedang membangun keluasan batin yang tidak tampak secara kasat mata. Dalam bahasa tasawuf, keadaan tersebut merupakan proses tajalli, yakni penyingkapan makna Ilahi melalui pengalaman eksistensial manusia.
Di tengah masyarakat modern yang cenderung menghindari penderitaan dan mengagungkan kenyamanan instan, refleksi ini hadir sebagai kritik spiritual yang halus namun tajam. Ia mengajak manusia membaca ulang makna kesulitan, bukan sebagai akhir dari harapan, melainkan sebagai fase rekonstruksi jiwa.
“Lewat ujian, Allah sedang membasuh jiwa,” ungkapnya. Sebuah metafora yang menggambarkan bahwa penderitaan berfungsi seperti air yang membersihkan debu batin: ambisi berlebihan, kecemasan duniawi, dan keterasingan dari makna hidup.
Dalam perspektif ini, ujian menjadi proses pengembalian manusia kepada diri autentiknya — diri yang tidak dikuasai ketakutan, tetapi dipenuhi cinta, hikmah, dan kesadaran transenden. Spiritualitas tidak lagi dipahami sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai cara terdalam untuk memahami realitas itu sendiri.
Narasi spiritual yang disampaikan TGB memperlihatkan bahwa tasawuf bukan sekadar praktik ritual individual, tetapi juga kerangka intelektual dan etis untuk membaca krisis manusia modern. Ketika dunia dipenuhi kegaduhan eksternal, perjalanan batin justru menjadi ruang revolusi paling sunyi sekaligus paling mendasar.
Melalui refleksi Ujian yang Memuliakan, pesan yang dihadirkan menjadi jelas: manusia tidak dimuliakan karena terbebas dari ujian, tetapi karena mampu menemukan Tuhan di dalamnya.
Di situlah penderitaan berubah menjadi cahaya — dan luka menjelma jalan pulang menuju kedalaman jiwa.
Redaksi : Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
(Pecinta Ulama dan Orang Soleh)


