masukkan script iklan disini
radarhukum.site, Jakarta - Di tanah Rokan Hulu yang subur dan dikelilingi hutan lebat, lahirlah seorang anak bernama Muhammad Saleh, yang kelak dikenal sebagai Tuanku Tambusai. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai agama dan keberanian. Ia belajar ilmu agama dengan tekun, sekaligus memahami bahwa hidup bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang membela kebenaran.
Ketika Belanda mulai memperluas kekuasaan dan menekan rakyat dengan aturan yang tidak adil, banyak masyarakat hidup dalam ketakutan. Namun, tidak bagi Tuanku Tambusai. Baginya, penjajahan adalah bentuk kezaliman yang harus dilawan.
Dengan keberanian dan keyakinan kuat, ia memimpin rakyatnya bangkit. Ia bukan hanya seorang pejuang bersenjata, tetapi juga seorang ulama yang mengobarkan semangat jihad melawan ketidakadilan. Benteng pertahanannya yang terkenal, Benteng Tambusai, menjadi simbol perlawanan yang kokoh. Belanda bahkan menjulukinya “Harimau Paderi dari Rokan” karena kegigihannya.
Perjuangannya tidak mudah. Serangan demi serangan datang silih berganti. Pasukannya harus menghadapi persenjataan modern Belanda dengan perlengkapan yang jauh lebih sederhana. Namun Tuanku Tambusai tidak pernah menyerah. Ia mengajarkan kepada pengikutnya bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada senjata, melainkan pada keberanian, persatuan, dan keimanan.
Meski pada akhirnya ia harus melanjutkan perjuangan hingga ke Negeri Sembilan, Malaysia, semangatnya tidak pernah padam. Ia tetap berdiri teguh sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.
Pesan Inspiratif dari Tuanku Tambusai
Keberanian lahir dari keyakinan.
Ketika kita yakin pada kebenaran, rasa takut akan menjadi kecil
Ilmu dan iman adalah kekuatan.
Tuanku Tambusai membuktikan bahwa perjuangan harus dilandasi nilai moral dan spiritual.
Pantang menyerah dalam menghadapi ketidakadilan. Walau tantangan besar menghadang, ia tidak pernah tunduk.
Pemimpin sejati menggerakkan hati, bukan hanya memberi perintah.
Kisah Tuanku Tambusai mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi “pejuang” dalam kehidupannya masing-masing — melawan kemalasan, melawan ketidakadilan, dan melawan rasa takut dalam diri sendiri.
Gambar Hanya Ilustrasi


