masukkan script iklan disini
Penulis : Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
(Mahasiswa Pascasarjana UIN SU - Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
Abstrak
Tulisan ini mengkaji konsep ketenangan batin dalam Islam sebagai fondasi pembentukan individu dan masyarakat yang damai. Dalam perspektif Islam, dinamika konflik dan krisis kemanusiaan merupakan bagian dari sunnatullah, namun manusia diberi jalan menuju kedamaian melalui dzikir, keikhlasan, dan penerimaan terhadap takdir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-konseptual berbasis studi literatur Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran ulama klasik serta sarjana modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketenangan spiritual (sakīnah) berperan dalam membentuk integritas moral, kejernihan nurani, serta kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan. Spiritualitas yang hidup dalam individu berimplikasi langsung pada terciptanya kemaslahatan sosial dan peradaban damai.
Kata kunci: sakinah, dzikir, spiritualitas Islam, kedamaian, peradaban.
Pendahuluan
Perjalanan sejarah manusia tidak terlepas dari konflik, kekerasan, dan pertarungan kepentingan. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang berjalan sesuai ketetapan Ilahi (sunnatullah). Namun Islam tidak hanya menggambarkan realitas konflik, melainkan juga menawarkan jalan menuju ketenangan dan kedamaian melalui pendekatan spiritual.
Al-Qur’an menegaskan bahwa ketenangan batin berakar dari kesadaran akan kehadiran Tuhan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa stabilitas jiwa manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi terutama oleh hubungan spiritual dengan Tuhan.
Kerangka Teoretis: Sunnatullah dan Arah Peradaban
Dalam Islam, kehidupan manusia berjalan di antara dua kecenderungan:
kecenderungan destruktif yang melahirkan kerusakan,
kecenderungan konstruktif yang melahirkan kebaikan dan kemaslahatan.
Al-Qur’an mengingatkan potensi kerusakan akibat ulah manusia:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
(QS. Ar-Rum: 41)
Namun di sisi lain, Islam menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas membangun kedamaian dan keteraturan.
Simbol thawaf dalam ibadah haji dapat dimaknai sebagai representasi orientasi hidup menuju pusat ketauhidan—sebuah gerak spiritual dari ego menuju kepasrahan total kepada Allah.
Spiritualitas dan Ketenangan Batin dalam Al-Qur’an dan Hadis
1. Konsep Sakīnah
Ketenangan (sakīnah) dalam Islam merupakan anugerah Ilahi yang diturunkan kepada hati orang beriman:
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin…”
(QS. Al-Fath: 4)
Sakīnah bukan sekadar kondisi psikologis, tetapi keadaan spiritual yang menumbuhkan rasa aman, kepercayaan, dan keteguhan.
2. Dzikir sebagai Sumber Ketenangan
Dzikir menjadi praktik utama dalam menjaga kesadaran ketuhanan:
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring…”
(QS. Ali ‘Imran: 191)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa dzikir merupakan sumber kehidupan spiritual manusia.
3. Ridha dan Penerimaan Takdir
Ketenangan juga lahir dari penerimaan terhadap ketetapan Allah:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah…”
(QS. At-Taghabun: 11)
Dalam hadis disebutkan:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika mendapat kesenangan ia bersyukur, jika ditimpa kesulitan ia bersabar.”
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa stabilitas jiwa bergantung pada sikap iman terhadap realitas hidup.
Dampak Sosial Spiritualitas
Spiritualitas tidak berhenti pada dimensi individual. Ia membentuk karakter sosial manusia:
integritas moral,
empati,
keadilan,
kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan.
Al-Qur’an menggambarkan pentingnya kejernihan hati dalam melihat kebenaran, sebagaimana kisah Nabi Musa a.s. menghadapi tukang sihir Fir’aun (QS. Taha: 66-69). Kebenaran yang autentik memiliki kekuatan yang tidak dapat ditiru oleh kepalsuan.
Demikian pula peringatan tentang munculnya fitnah akhir zaman mengajarkan pentingnya kedalaman iman sebagai alat pembeda antara yang haq dan batil.
Perspektif Akademik dan Pemikiran Ulama
1. Al-Ghazali
Al-Ghazali menekankan bahwa hati (qalb) merupakan pusat kesadaran spiritual manusia. Penyucian hati melalui dzikir dan muhasabah menjadi jalan menuju kebahagiaan sejati (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin).
2. Ibn Qayyim al-Jauziyyah
Menurut Ibn Qayyim, dzikir berfungsi sebagai “nutrisi ruhani” yang menenangkan jiwa dan memperkuat iman (Ibn Qayyim, Al-Wabil al-Shayyib).
3. Perspektif Psikologi Spiritual Modern
Kajian psikologi menunjukkan bahwa praktik spiritual berkontribusi pada kesehatan mental, resiliensi, dan kesejahteraan hidup (Pargament, 2011; Koenig, 2012). Spiritualitas membantu individu mengatasi stres, konflik, dan ketidakpastian.
4. Pemikiran Fazlur Rahman
Fazlur Rahman menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berisi norma ibadah, tetapi juga visi etika sosial yang membentuk masyarakat berkeadilan (Rahman, 1982).
Diskusi
Krisis peradaban modern banyak dipicu oleh dominasi materialisme, individualisme, dan kekosongan makna hidup. Dalam konteks ini, spiritualitas Islam menawarkan paradigma alternatif: transformasi batin sebagai fondasi perubahan sosial.
Ketenangan batin melahirkan tindakan etis.
Individu yang memiliki kesadaran spiritual cenderung:
tidak mudah terprovokasi konflik,
memiliki orientasi kemaslahatan,
menjaga keadilan dan kedamaian.
Dengan demikian, spiritualitas bukan sekadar praktik ibadah personal, tetapi kekuatan peradaban.
Kesimpulan
Ketenangan dan kedamaian dalam Islam berakar pada kesadaran spiritual yang diwujudkan melalui dzikir, keikhlasan, dan penerimaan terhadap takdir. Dalil Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa stabilitas batin menjadi fondasi kehidupan sosial yang damai. Perspektif ulama klasik dan kajian akademik modern menguatkan bahwa spiritualitas berperan penting dalam membentuk integritas individu dan kemaslahatan masyarakat.
Peradaban damai lahir dari manusia yang jiwanya tenang, hatinya jernih, dan tindakannya berlandaskan ketakwaan.
Daftar Referensi
Al-Qur’an al-Karim
Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr.
Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Al-Wabil al-Shayyib.
Rahman, Fazlur. (1982). Islam and Modernity. Chicago: University of Chicago Press.
Koenig, H. (2012). Religion, Spirituality, and Health: The Research and Clinical Implications.
Pargament, K. (2011). Spiritually Integrated Psychotherapy.
Sahih al-Bukhari.
Sahih Muslim.


