• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Setoran ke Langit yang Berdampak ke Bumi: Refleksi atas Kata Sambutan Sugiat Santoso di Majelis Zikir Persulukan TGB

    REDAKSI
    Selasa, 03 Februari 2026, Februari 03, 2026 WIB Last Updated 2026-02-03T10:23:31Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Dr. Mawardi Siregar, MA
    Sekjen DPP Keluarga Abituren Musthafawiyah 2022–2027 | Murid Spiritual TGB

    radarhukum.site, LANGSA (03/02/26). Dalam banyak tradisi keilmuan Islam, keberhasilan hidup tidak selamanya diperoleh karena kecerdasan rasional, strategi politik dan kerja keras an sich. Keberhasilan juga diyakini sebagai buah dari investasi spiritual yang konsisten, amal, niat dan kedekatan kepada Allah Swt yang dirawat dengan baik. 

    Pesan itulah yang saya tangkap dari kata sambutan Bang Sugiat Santoso, Anggota DPR RI Komisi XIII dari Partai Gerindra, pada acara Groundbreaking Gedung Tahfiz Al-Qur’an Sugiat Santoso, 1 Februari 2026, di Majelis Zikir Persulukan Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA, Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun.

    Bang Sugiat secara konsisten merefleksikan keberhasilan perjalanan kariernya yang tidak terlepas dari bimbingan TGB sebagai mursyidnya. Ia menuturkan bahwa perubahan hidupnya bermula dari proses menata niat, membersihkan hati dan mendisiplinkan diri secara spiritual di bawah bimbingan TGB. 

    Ia bahkan menyebut, bahwa ada amalan yang diajarkan TGB, “Berniaga kepada Allah dengan memberikan setoran ke langit sebelum menagih hasil di bumi.” Setiap kebaikan yang disetor, sedekah, pelayanan, pengabdian dan niat lurus akan kembali dalam bentuk keberkahan yang nyata dan berlipat ganda. Ia juga menyampaikan ungkapan sederhana tapi mendalam, “Perintah Tuan Guru itu dimensi langitannya lebih kuat.”

    Saya melihat, bahwa nasihat-nasihat TGB telah menjadi kompas moral bagi Bang Sugiat untuk memastikan setiap langkahnya agar tetap berpijak pada nilai-nilai ilahiah. Pada akhirnya, perjalanan karir bang Sugiat sebagai publik figur memberikan satu pelajaran penting bagi kita, bahwa pengalaman spiritualitas yang otentik, keteguhan menata diri dan menjaga niat, keadaban terhadap guru, dapat melahirkan etos kerja, integritas dan ketahanan karakter. Ketika seseorang setia “menyambung ke langit”, menjaga keadaban kepada guru, maka langkahnya di bumi akan lebih terarah. Rumus ini menjadi fondasi batin yang membentuk karakter kepemimpinannya.

    Semoga bang Sugiat tetap istiqomah dalam bimbingan TGB. Karena kehadiran bang Sugiat sebagai tokoh muda nasional yang berkecimpung di ruang politik sebagai wakil rakyat, adalah figur publik yang mengakar kuat ke bumi sekaligus terhubung kokoh ke langit. Perpaduan antara spiritualitas dan pengabdian sosial inilah sesungguhnya yang akhir-akhir ini mulai langka dalam dunia politik. Kombinasi ini mulai luntur dari dalam diri para politisi, pejabat, birokrat, dan bahkan aktivis.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini