• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    NASIHAT SEORANG AYAH UNTUK ANAKNYA: "Terinspirasi dari Hikmah Lukman al-Hakim dalam Al-Qur’an"

    REDAKSI
    Selasa, 24 Februari 2026, Februari 24, 2026 WIB Last Updated 2026-02-24T17:48:55Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Untuk Anakku Tercinta,
    Muhammad Al-Mujaddid Silalahi

    Wahai anakku,
    ketika tulisan ini ditorehkan, engkau masih berada dalam pelukan waktu yang suci — baru dua bulan mengenal dunia, belum mengenal kata, belum memahami suara, bahkan belum mengerti makna air mata dan senyum yang kau hadiahkan kepada kami. Namun seorang ayah tahu, waktu adalah pengajar paling jujur, dan kelak engkau akan tumbuh membaca jejak-jejak cinta yang ditinggalkan untukmu.

    Maka kutuliskan nasihat ini, sebagaimana dahulu seorang hamba saleh bernama Lukman al-Hakim menanamkan hikmah kepada anaknya, hingga Allah mengabadikan kata-katanya dalam Al-Qur’an. Ia bukan nabi, bukan rasul, tetapi kebijaksanaan dan ketulusannya menjadikannya kekal dalam firman Ilahi. Dari sana aku belajar: kemuliaan manusia bukan pada kedudukan, melainkan pada kebijaksanaan dan ketakwaan.

    Wahai anakku,
    Ketahuilah bahwa hidup bukan sekadar berjalan dari lahir menuju mati, tetapi perjalanan jiwa menuju Allah. Maka tegakkanlah shalat, sebab shalat adalah tiang ruhmu. Di saat dunia kelak memanggilmu dengan kesibukan, ambisi, dan gemerlap yang menipu, kembalilah kepada sujud. Karena dalam sujudlah manusia menemukan ukuran dirinya yang sebenarnya: kecil di hadapan Sang Maha Besar.
    Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 17:
    “Wahai anakku! Dirikanlah shalat, suruhlah berbuat yang makruf dan cegahlah dari yang mungkar, serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya itu termasuk perkara yang agung.”

    Anakku, kelak engkau akan hidup di zaman yang mungkin lebih bising daripada hari ini — zaman ketika kebenaran sering ditertawakan dan kebatilan dipuji. Maka jadilah engkau penjaga kebaikan, meski sendirian. Mengajak kepada kebenaran bukan tugas yang ringan; ia membutuhkan keberanian dan kesabaran. Ingatlah, orang yang berdiri di jalan Allah sering diuji bukan karena lemah, tetapi karena ia dipercaya.

    Wahai anakku,
    Jangan biarkan kesombongan bersemayam dalam hatimu. Ilmu, jabatan, kekuatan, ataupun pujian manusia hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Allah mengingatkan dalam Surah Luqman ayat 18:
    “Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. 

    Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
    Belajarlah menundukkan hati sebelum menundukkan dunia. Karena manusia yang tinggi di mata Allah adalah mereka yang rendah hati di hadapan sesama.

    Dan jika suatu hari engkau memiliki suara yang didengar banyak orang, maka lembutkanlah ia. Jangan keras tanpa hikmah, jangan lantang tanpa kasih. Sebab Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 19:
    “Sederhanakanlah langkahmu dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”

    Anakku tersayang,
    Kelembutan bukan tanda kelemahan; ia adalah tanda kekuatan jiwa. Orang yang mampu menguasai dirinya lebih mulia daripada yang mampu menguasai manusia lain.
    Kelak engkau akan mengenal dunia dengan segala wajahnya: cinta dan kehilangan, kemenangan dan kegagalan, persahabatan dan pengkhianatan. Pada saat itu, ingatlah bahwa nilai seorang manusia bukan diukur dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa kuat ia tetap bersujud.

    Jadilah hamba Allah sebelum menjadi apa pun di dunia ini. Jadilah manusia yang kehadirannya menenangkan, bukan menakutkan; yang ucapannya menyembuhkan, bukan melukai; yang langkahnya membawa manfaat, bukan kerusakan.

    Jika suatu hari ayahmu telah tiada dan engkau membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa nasihat ini bukan sekadar kata, melainkan doa yang panjang: agar engkau tumbuh sebagai insan yang dicintai Allah, menjadi penyejuk bagi manusia, dan kelak dipertemukan kembali dalam rahmat-Nya yang abadi.

    Semoga engkau berjalan di jalan para salihin, mencintai para nabi dan orang-orang saleh, dan dikumpulkan bersama mereka dalam cahaya ridha Allah.

    Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

    Dengan cinta yang tak akan habis oleh waktu,
    Ayahmu,
    Muhammad Mas’ud Silalahi
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini