Bismillahirrohmanirrohiim
Oleh:
Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sumatera Utara
Artikel ini membahas konsep ikhtiar, kesabaran, dan tawakal dalam Islam melalui refleksi teologis terhadap kisah Siti Hajar dalam peristiwa sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah. Kisah tersebut bukan sekadar sejarah spiritual, melainkan representasi nilai ketahanan psikologis dan keimanan seorang hamba dalam menghadapi kondisi krisis eksistensial. Melalui pendekatan reflektif-normatif berbasis sumber ajaran Islam, artikel ini menegaskan bahwa usaha manusia yang disertai doa dan keyakinan kepada Allah melahirkan bentuk pertolongan Ilahi yang sering kali melampaui ekspektasi manusia. Air Zamzam menjadi simbol teologis bahwa rahmat Allah hadir pada titik keputusasaan manusia yang tetap berikhtiar.
Nilai-nilai ini relevan dalam kehidupan modern umat Islam sebagai fondasi spiritual menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan psikologis.
Kata kunci: Ikhtiar, Tawakal, Sabar, Siti Hajar, Ketahanan Spiritual, Teologi Islam.
Dalam perjalanan kehidupan manusia, rasa takut, sedih, dan putus asa merupakan pengalaman eksistensial yang tidak terpisahkan dari dinamika kehidupan. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memberikan pedoman spiritual agar manusia tidak larut dalam keputusasaan. Al-Qur’an berulang kali menegaskan larangan berputus asa dari rahmat Allah serta mendorong manusia untuk terus berikhtiar.
Salah satu kisah monumental yang menggambarkan hubungan antara usaha manusia dan pertolongan Tuhan adalah kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, ketika ditinggalkan di lembah tandus Makkah bersama putranya, Nabi Ismail AS yang masih bayi. Dalam kondisi tanpa air, tanpa kehidupan, dan tanpa kepastian masa depan, Siti Hajar tidak menyerah pada keadaan. Ia berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebagai bentuk usaha maksimal seorang hamba.
Peristiwa tersebut kemudian diabadikan dalam ritual ibadah haji dan umrah melalui sa’i, yang menjadi simbol universal perjuangan manusia dalam mencari solusi kehidupan.
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode refleksi teologis terhadap narasi keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta literatur sejarah Islam. Analisis dilakukan dengan mengaitkan nilai spiritual dalam kisah Siti Hajar dengan realitas kehidupan umat Islam kontemporer.
1. Ikhtiar sebagai Manifestasi Keimanan
Ikhtiar dalam Islam bukan sekadar usaha fisik, tetapi ekspresi keyakinan kepada Allah. Siti Hajar memahami bahwa pertolongan Allah tidak meniadakan usaha manusia. Ia tidak menunggu mukjizat secara pasif, melainkan bergerak aktif mencari air demi keselamatan anaknya.
Gerakan sa’i yang dilakukan berulang kali mencerminkan bahwa usaha manusia sering kali tampak sia-sia secara logika, namun memiliki nilai spiritual yang tinggi di sisi Allah. Dalam konteks ini, ikhtiar menjadi bentuk ibadah.
2. Sabar dan Ketahanan Spiritual
Kesabaran Siti Hajar bukanlah sikap pasrah tanpa tindakan, melainkan kesabaran aktif (active patience). Ia menghadapi rasa takut, kesendirian, dan kecemasan dengan keteguhan iman.
Dalam perspektif psikologi Islam, kondisi tersebut menunjukkan ketahanan spiritual (spiritual resilience), yaitu kemampuan bertahan dalam tekanan hidup karena adanya keyakinan transendental kepada Tuhan.
Nilai ini relevan bagi umat Islam modern yang menghadapi tekanan sosial, ekonomi, maupun krisis identitas di era globalisasi.
3. Tawakal dan Runtuhnya Ekspektasi Manusia
Menariknya, air Zamzam tidak muncul dari tempat yang dicari Siti Hajar. Ia berlari mencari air di bukit, tetapi sumber air justru muncul di dekat kaki Nabi Ismail AS.
Hal ini menunjukkan prinsip teologis penting: pertolongan Allah sering datang melalui cara yang tidak sesuai ekspektasi manusia. Ekspektasi manusia runtuh, namun digantikan oleh karunia yang jauh lebih besar.
Air Zamzam bukan hanya menyelamatkan satu keluarga, tetapi menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia hingga akhir zaman. Bahkan orang-orang yang dahulu memusuhi Nabi Ibrahim dan keluarganya pun turut menikmati keberkahan tersebut. Ini menunjukkan universalitas rahmat Allah.
4. Zamzam sebagai Simbol Rahmat Ilahi
Air Zamzam memiliki makna simbolik yang mendalam:
hasil dari ikhtiar dan doa,
bukti kasih sayang Allah,
keberkahan yang berkelanjutan,
serta simbol harapan bagi umat manusia.
Dalam teologi Islam, karunia Allah tidak selalu bersifat individual, tetapi dapat menjadi manfaat kolektif lintas generasi.
Relevansi bagi Kehidupan Kontemporer
Kisah Siti Hajar memberikan pelajaran penting bagi umat Islam masa kini:
Jangan takut dan jangan bersedih dalam menghadapi ujian hidup.
Usaha harus terus dilakukan meskipun hasil belum terlihat.
Doa dan tasbih menjadi penguat batin dalam perjuangan.
Pertolongan Allah hadir pada titik
kesungguhan, bukan pada keputusasaan.
Di tengah kehidupan modern yang penuh ketidakpastian, nilai sa’i menjadi metafora kehidupan: manusia terus bergerak, berusaha, dan berharap kepada Allah.
Kisah Siti Hajar merupakan representasi ideal hubungan antara ikhtiar manusia dan rahmat Allah. Sa’i antara Shafa dan Marwah mengajarkan bahwa usaha yang dilakukan dengan iman, kesabaran, dan cinta pengorbanan akan melahirkan pertolongan Ilahi yang melampaui logika manusia.
Air Zamzam menjadi simbol abadi bahwa di saat paling genting, Allah menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi membawa keberkahan lintas zaman.
Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk terus menjaga shalat, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang disertai doa tidak pernah sia-sia di sisi Allah SWT.
Semoga Allah senantiasa menuntun langkah kita dalam shalat dan kesabaran, serta menjadikan setiap usaha sebagai jalan turunnya rahmat dan pertolongan-Nya.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🤲


