Iklan

"Gus Dur: Wafatnya Menjadi Jalan Manfaat, Jejak Amal yang Terus Menghidupkan Umat dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat"

MEDIA ONLINE NASIONAL
Senin, 08 Juni 2026, Juni 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-08T10:34:11Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)

RADARHUKUM.SITE, JOMBANG 08 JUNI 2026 - Dalam Islam, salah satu tanda kemuliaan seorang hamba adalah ketika keberadaannya membawa manfaat bagi banyak orang. Bahkan setelah wafat sekalipun, amal dan pengaruh kebaikannya tetap hidup di tengah masyarakat. 

Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tampaknya menjadi salah satu figur bangsa yang jejak manfaatnya masih terasa hingga hari ini. Makam beliau yang berada di Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara.

Berdasarkan berbagai laporan media dan pengelola kawasan Tebuireng, jumlah peziarah yang datang ke makam Gus Dur pada hari biasa berkisar antara 3.000 hingga 5.000 orang per hari. Bahkan pada momentum haul, libur nasional, dan Bulan Gus Dur, jumlah tersebut dapat meningkat berkali-kali lipat. Beberapa laporan menyebutkan bahwa jumlah kunjungan mencapai sekitar 1,5 juta orang per tahun.

Kehadiran jutaan peziarah tersebut tidak hanya menunjukkan kecintaan masyarakat kepada Gus Dur, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga sekitar. 

Penelitian tentang perubahan sosial masyarakat Tebuireng menunjukkan bahwa berkembangnya wisata religi makam Gus Dur turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat melalui perdagangan, jasa, transportasi, penginapan, hingga lapangan pekerjaan baru.

Selain itu, dana infak yang diberikan para peziarah melalui kotak amal juga mencapai angka yang sangat besar. Pada tahun 2019, pengelola mencatat penghimpunan infak peziarah mencapai sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp3,3 miliar dalam satu tahun. Dana tersebut kemudian dikelola untuk berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan.

Inilah salah satu pelajaran besar yang dapat kita renungkan. Seorang yang telah wafat lebih dari satu dekade ternyata masih menjadi sebab bergeraknya roda ekonomi masyarakat, membantu kaum dhuafa melalui dana sosial, serta mengundang jutaan orang untuk berziarah, berdoa, dan mengingat kematian.

Tentu semua ini bukan karena kekuatan manusia semata, melainkan karena kehendak dan kebesaran Allah SWT. Allah mengangkat derajat siapa saja yang dikehendaki-Nya melalui amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan pengabdian kepada umat.

Pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri adalah: jika hari ini Allah memanggil kita pulang, manfaat apa yang akan terus hidup setelah kepergian kita?
Akankah ilmu kita dikenang?
Akankah sedekah kita terus mengalir?
Akankah perjuangan kita menjadi sebab kebaikan bagi orang lain?
Gus Dur telah memberikan satu pelajaran penting bahwa umur biologis boleh berakhir, tetapi umur manfaat dapat terus berjalan selama Allah menghendakinya. Maka selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal yang bermanfaat, membangun peradaban dengan ilmu, serta menghadirkan keberkahan bagi sesama.

Sebab pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan dikenang, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan untuk umat manusia.

(Redaksi)
Komentar

Tampilkan

Terkini