Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi
(Kader HMI Cabang Medan)
RADAEHUKUM.SITE, JAKARTA - Dalam sejarah panjang peradaban Islam, kepemimpinan tidak pernah lahir dari keseragaman watak, tetapi dari keberagaman karakter yang dipersatukan oleh tujuan yang sama: menegakkan keadilan dan menghadirkan kemaslahatan umat. Dari masa Nubuwwah hingga era Khulafaur Rasyidin, kita menyaksikan bagaimana Islam dibangun oleh para pemimpin dengan corak, strategi, dan pendekatan yang berbeda-beda, namun tetap berada dalam satu napas perjuangan yang sama.
Nabi Muhammad ﷺ memiliki empat sahabat utama: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempatnya tidak dibentuk menjadi salinan Nabi. Mereka tumbuh dengan karakter, kecerdasan, dan gaya kepemimpinan masing-masing. Abu Bakar dikenal lembut namun tegas menjaga aqidah umat. Umar tampil kokoh dan revolusioner dalam penegakan hukum. Utsman menghadirkan kelembutan sosial dan kekuatan ekonomi umat. Sedangkan Ali menjadi simbol kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.
Perbedaan itu bukan ancaman bagi persatuan, melainkan kekuatan bagi peradaban.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang keberagaman suku dan bangsa, tetapi juga memberi pelajaran bahwa perbedaan karakter, cara berpikir, dan metode perjuangan merupakan sunnatullah dalam kehidupan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda agar saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Maka, kepemimpinan yang sehat bukanlah kepemimpinan yang memaksa semua orang menjadi seragam, melainkan kepemimpinan yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan kolektif.
Inilah yang dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ kepada para sahabatnya. Beliau tidak membentuk pengikut yang tunduk tanpa nalar, melainkan melahirkan kader-kader pemimpin yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap umat.
Nilai inilah yang sejatinya hidup dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Islam. Dari zaman ke zaman, estafet kepemimpinan HMI selalu melahirkan wajah-wajah baru dengan gagasan dan strategi yang berbeda. Ada yang bergerak melalui jalur intelektual, ada yang membangun lewat gerakan sosial, ada yang berjuang di ranah politik, birokrasi, akademik, bahkan medan dakwah. Semuanya memiliki medan juang masing-masing.
Karena itu, kader-kader HMI tidak hidup dalam romantisme masa lalu. Mereka menghormati sejarah, tetapi tidak diperbudak oleh nostalgia “doeloe”. Sebab setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap generasi memiliki cara perjuangannya sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Dalam Tafsir Al-Misbah, ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial dan peradaban tidak lahir dari kemalasan berpikir ataupun ketergantungan kepada tokoh semata.
Perubahan hanya lahir dari keberanian suatu generasi untuk memperbaiki kualitas diri, ilmu, moral, dan keberpihakan sosialnya.
Maka kader HMI yang progresif tidak dibentuk untuk menjadi pengikut feodalisme yang tunduk tanpa daya kritis. Mereka juga tidak dididik untuk menjadi budak kapitalisme yang kehilangan idealisme. HMI melahirkan insan-insan merdeka: akademis, pencipta, dan pengabdi.
Di dalam ruang perjuangan HMI, budaya berpikir lebih dihormati daripada budaya perintah. Di sana, “interupsi”, “klarifikasi”, “informasi”, dan “justifikasi” menjadi bagian dari tradisi intelektual yang hidup. Sebab kader HMI bukan pasukan yang bergerak dengan doktrin buta, melainkan laskar pemikir yang ditempa melalui dialektika, ilmu pengetahuan, dan keberanian moral.
Candradimuka HMI adalah kawah besar pembentukan peradaban. Tempat lahirnya “Insan Cita” yang digembleng bukan hanya kecerdasan intelektualnya, tetapi juga emosional dan spiritualnya. Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi membutuhkan pemimpin yang memiliki hati, akhlak, dan keberpihakan kepada rakyat.
Sebagaimana tujuan HMI dalam Pasal 4:
“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhai Allah SWT.”
Tujuan ini bukan sekadar slogan organisasi. Ia adalah amanah sejarah dan panggilan moral bagi seluruh kader HMI di mana pun berada.
Allah SWT berfirman:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa “umat terbaik” bukanlah umat yang hanya bangga dengan identitas, tetapi umat yang aktif memperjuangkan nilai kebaikan dan keadilan di tengah masyarakat. Maka kualitas kader HMI tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara, tetapi seberapa besar kontribusinya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Akhirnya, jalan perjuangan HMI adalah jalan ikhtiar panjang untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berpijak pada Al-Qur’an dan Hadis, namun tetap mampu membaca tantangan zaman dengan pikiran yang terbuka dan hati yang merdeka.
Karena bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini hanya terlalu lama kekurangan pemimpin yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani mengabdi.
Bahagia HMI.
Yakin Usaha Sampai. 💚🖤






