masukkan script iklan disini
Oleh : Herry Chandra
(Murid Tuan Guru Batak Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban Rajagukguk, MA)
Dalam dinamika politik modern, keberhasilan sering kali direduksi pada capaian elektoral, jabatan formal, dan pengakuan publik. Namun, dalam perspektif spiritual Islam—khususnya dalam tradisi tasawuf—terdapat dimensi lain yang lebih dalam: maqām (tingkatan ruhani) yang tidak diukur oleh kursi kekuasaan, melainkan oleh kualitas kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam beramal.
Tulisan ini mengangkat refleksi seorang sālik (penempuh jalan spiritual) yang tetap berkhidmat di ruang sosial-politik, namun menggeser orientasi dari pengakuan manusia menuju ridha Allah.
1. Politik sebagai Ladang Amal, Bukan Sekadar Arena Kuasa
Al-Qur’an menegaskan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh hasil lahiriah semata, tetapi oleh niat dan ketulusan:
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas...”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Dalam konteks ini, perjalanan panjang tanpa jabatan bukanlah kegagalan, melainkan proses pematangan niat. Seorang yang tetap bertahan dalam kerja sosial meski tanpa penghargaan struktural sedang menjalankan prinsip ikhlas—sebuah fondasi utama dalam Islam.
Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
2. Kegagalan sebagai Tarbiyah Ilahiyah
Pengalaman “ditulis lalu dihapus” dalam panggung politik menggambarkan realitas yang kerap terjadi: harapan yang pupus.
Namun Al-Qur’an mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu...”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Dalam kerangka ini, kegagalan bukanlah akhir, melainkan bentuk tarbiyah ilahiyah (pendidikan dari Allah) untuk mengalihkan orientasi dari ambisi duniawi menuju kedewasaan ruhani.
Rasa marah dan sedih adalah manusiawi, namun kemampuan untuk berdiam (ṣabr) dan tetap bersyukur menunjukkan kematangan iman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
3. Transformasi dari Ketergantungan kepada Manusia Menuju Tawakkal
Nasihat sang guru dalam refleksi tersebut mencerminkan prinsip tawakkal: tidak menggantungkan harapan pada manusia, melainkan pada Allah semata.
“Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
(QS. At-Talaq: 3)
Dalam praktik politik, ini berarti menggeser paradigma dari “mencari akses kekuasaan” menjadi “membangun kemandirian pengabdian”. Ketika pintu-pintu formal tertutup, seorang sālik tidak berhenti, tetapi menciptakan ruang baru pengabdian di tengah masyarakat.
4. Uzlah Aktif: Spiritualitas yang Membumi
Konsep uzlah dalam tasawuf sering disalahpahami sebagai menarik diri dari dunia. Padahal, dalam tradisi Nabi Muhammad ﷺ, uzlah yang ideal adalah uzlah aktif: menyepi dari ambisi duniawi, namun tetap hadir dalam pelayanan sosial.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Membantu kaum lemah, memperhatikan anak yatim, dan menjaga stabilitas sosial adalah bentuk dzikir sosial—ibadah yang tidak hanya vertikal, tetapi juga horizontal. Ini sejalan dengan firman Allah:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim...”
(QS. Al-Ma’un: 1–2)
5. Kekuasaan Hakiki: Legitimasi Moral, Bukan Formal
Dalam realitas politik, legitimasi sering diukur dari jabatan. Namun dalam perspektif Islam, kekuasaan sejati adalah pengaruh moral yang lahir dari kepercayaan masyarakat.
Doa orang yang ditolong secara diam-diam memiliki kekuatan yang lebih dalam daripada sorotan publik. Nabi ﷺ mengingatkan:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara dia dan Allah.”
(HR. Bukhari)
Sebaliknya, membantu tanpa pamrih membuka pintu keberkahan yang tak terlihat.
6. Memaafkan sebagai Maqam Tertinggi
Sikap memaafkan pihak yang melupakan atau bahkan menyingkirkan adalah refleksi dari maqam ‘afw (pemaafan), yang dalam Al-Qur’an diposisikan sebagai karakter orang bertakwa:
“...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain...”
(QS. Ali Imran: 134)
Dalam konteks politik yang keras, kemampuan memaafkan bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral yang menunjukkan kedewasaan spiritual.
Penutup: Politik sebagai Jalan Kenaikan Spiritual
Refleksi ini mengajarkan bahwa kekalahan dalam politik tidak selalu berarti kegagalan.
Bisa jadi itu adalah proses naik kelas—dari orientasi duniawi menuju orientasi ilahiyah.
Setiap luka menjadi tanda perjalanan, setiap kesendirian menjadi ruang belajar, dan setiap amal tersembunyi menjadi investasi abadi.
Pada akhirnya, politik dalam perspektif seorang sālik bukanlah sekadar perebutan kekuasaan, tetapi jalan panjang menuju Allah—di mana ukuran keberhasilan bukan pada seberapa tinggi seseorang berdiri di panggung, tetapi seberapa dalam ia tertanam dalam doa orang-orang yang ia tolong.




