masukkan script iklan disini
Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos
(Aktifis Sosial dan Politik)
Langit telah gelap—
bukan sekadar malam,
melainkan bayang pekat
yang menggulung nurani zaman.
Di atas bumi, riuh tak beraturan,
suara manusia saling bertabrakan,
namun di dasar laut—
sunyi justru menjadi saksi kejahatan.
Mesin-mesin menggeram tanpa doa,
menggali isi perut ibu pertiwi,
mengangkut harta yang bukan milik mereka,
dengan rakus, dengan sunyi, tanpa empati.
Di manakah penjaga negeri ini?
Apakah mereka tertidur
atau sengaja menutup mata—
pada luka yang terus menganga?
Tuhan...
lihatlah ironi yang kami pelihara:
seorang lapar mencuri sepotong asa,
dipukul hingga nyaris hilang nyawa.
Sementara di istana kekuasaan,
para perampok berdasi berdiri gagah,
menghisap triliunan harapan rakyat,
namun dielu-elukan seperti pahlawan megah.
Apa yang salah dengan timbangan ini?
Mengapa dosa kecil dipaku ke langit,
sedang dosa besar dikubur dalam diam—
lalu diberi nama kehormatan?
Langit kian gelap,
tapi bukan karena malam semata,
melainkan karena cahaya keadilan
telah lama padam di dada manusia.
Dan laut—
akan terus bergemuruh dalam diam,
menyimpan cerita tentang negeri
yang kehilangan arah dan keberanian.
Medan, Minggu 26 April 2026
Sajak Keadilan Sosial dan Hukum Yang Hilang




