• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Terkait Issue Medan Tanah Melayu-Karo, Ini Respon Dari MMS

    REDAKSI
    Kamis, 05 Maret 2026, Maret 05, 2026 WIB Last Updated 2026-03-05T12:42:36Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Bismillahirrohmanirrohiim

    Medan, radarhukum.site — Wacana tentang identitas sejarah Kota Medan kembali mengemuka di tengah dinamika sosial yang belakangan muncul di ruang publik. Dalam perspektif sejarah panjangnya, Kota Medan sesungguhnya lahir dari perjumpaan peradaban yang berlapis: dari kerajaan kuno, tradisi lokal, hingga proses Islamisasi yang membentuk karakter masyarakatnya hingga hari ini. Kamis, (05/03/26).

    Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa jauh sebelum berdirinya Kesultanan di wilayah Deli, kawasan yang kini menjadi Kota Medan telah dihuni oleh masyarakat yang berada dalam pengaruh Kerajaan Aru atau sering juga disebut Haru. Kerajaan ini dikenal dalam berbagai catatan sejarah, termasuk dalam literatur Melayu dan sumber asing, sebagai salah satu kekuatan penting di pesisir timur Sumatra pada abad ke-13 hingga abad ke-16.

    Dalam catatan perjalanan Portugis seperti yang ditulis oleh Tomé Pires dalam karya terkenalnya Suma Oriental, Haru digambarkan sebagai kerajaan yang memiliki pengaruh besar dalam jalur perdagangan di Selat Malaka. Kerajaan ini juga memiliki dinamika keagamaan yang kompleks: mulai dari pengaruh Hindu-Buddha, kepercayaan lokal (animisme atau yang dikenal dalam tradisi Karo sebagai Pemena), hingga proses Islamisasi yang semakin kuat pada fase akhir kekuasaannya.

    Seiring dengan melemahnya kekuatan Haru akibat konflik regional dan ekspansi kekuatan lain, muncul fase baru dalam sejarah kawasan yang kelak menjadi Medan. Dalam tradisi lokal masyarakat Karo dan Melayu Deli, tokoh Guru Patimpus Sembiring Pelawi disebut sebagai figur penting yang membuka permukiman di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura pada abad ke-16.

    Dari titik inilah embrio Kota Medan mulai terbentuk.
    Namun sejarah lokal juga mencatat bahwa proses pembentukan wilayah ini tidak sepenuhnya berlangsung tanpa dinamika sosial dan spiritual. Dalam tradisi tutur masyarakat setempat, terdapat kisah tentang tokoh kharismatik yang dikenal sebagai Datuk Kota Bangun, sosok yang diyakini memiliki pengaruh spiritual kuat di kawasan tersebut.

    Legenda lokal menyebutkan bahwa kekuatan spiritual Datuk Kota Bangun menjadi faktor yang tidak mudah ditaklukkan oleh Guru Patimpus. Dalam narasi budaya tersebut, akhirnya Guru Patimpus memilih jalan kompromi dan penghormatan terhadap otoritas spiritual lokal yang sudah lebih dahulu ada.

    Kisah ini tidak hanya menjadi bagian dari folklor masyarakat, tetapi juga sering dimaknai sebagai simbol bagaimana perjumpaan kekuasaan, budaya, dan spiritualitas membentuk fondasi sosial wilayah Medan.
    Dalam perkembangan berikutnya, kawasan ini kemudian berada dalam pengaruh Kesultanan Deli, yang semakin menguatkan identitas Islam di wilayah tersebut. Kesultanan ini memainkan peran penting dalam pembentukan struktur politik, ekonomi, dan kebudayaan di kawasan Sumatra Timur hingga masa kolonial.
    Dari rangkaian sejarah tersebut terlihat bahwa Medan sejak awal bukanlah ruang yang homogen. Ia tumbuh sebagai wilayah pertemuan berbagai etnis, kepercayaan, dan tradisi.

    Masyarakat Karo, Melayu, Batak, Minangkabau, Tionghoa, India, hingga komunitas lain datang dan hidup berdampingan dalam satu ruang sosial yang sama. Interaksi panjang antar-komunitas inilah yang kemudian membentuk karakter Medan sebagai kota multietnis yang relatif dinamis dan terbuka.

    Karena itu, ketika dinamika sosial muncul di ruang publik—termasuk polemik yang sempat mencuat beberapa waktu terakhir—sejumlah kalangan menilai penting untuk kembali melihat sejarah panjang kota ini.

    Sejarah tersebut menunjukkan bahwa harmoni bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang dialog budaya, penghormatan terhadap tradisi, serta kemampuan masyarakat untuk mengelola perbedaan.

    Dengan kata lain, identitas Medan sejak awal adalah identitas perjumpaan.
    Sebuah kota yang lahir dari lapisan sejarah yang beragam, tetapi justru menemukan kekuatannya dalam kerukunan sosial.

    Penulis:
    Muhammad Mas'ud Silalahi., S.Sos
    (Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini