• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Perut Kecapi Yang Kosong (Sebuah Renungan Sufistik)

    REDAKSI
    Minggu, 08 Maret 2026, Maret 08, 2026 WIB Last Updated 2026-03-08T16:54:50Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Di dada sunyi sebuah kecapi,
    terhampar ruang kosong
    yang tak berwujud,
    namun menyimpan kemungkinan tak bertepi.

    Kosong—
    bukan sekadar hampa,
    melainkan rahim nada
    yang menunggu disentuh takdir jemari.

    Jika tangan seniman yang arif menyapanya,
    jemari yang mengerti rahasia getar,
    maka dari ruang kosong itu
    lahirlah melodi yang meneduhkan langit batin—
    mengalir seperti doa di sepertiga malam,
    menyejukkan jiwa yang letih oleh dunia,
    mendamaikan sanubari yang lama bergolak.

    Namun bila kecapi disentuh
    oleh tangan yang kehilangan rasa,
    oleh jemari yang tak mengenal hikmah sunyi,
    maka kosong yang sama
    menjelma kegaduhan yang memekakkan.

    Nada-nada tersesat dari jalan harmoni,
    melodi terjerembab dalam kegelisahan,
    dan gendang telinga pun bergemuruh
    seakan hati dipaksa menanggung kegaduhan dunia.

    Begitulah hakikat kosong—
    ia tidak pernah salah.
    Yang menentukan hanyalah
    siapa yang memainkannya.

    Seperti hati manusia:
    jika ia disentuh oleh cahaya Ilahi,
    ia menjadi kecapi yang menebar kedamaian.
    Namun jika ia dikuasai nafsu dan lalai,
    getarnya hanya melahirkan riuh
    yang menjauhkan jiwa dari ketenteraman.

    Maka belajarlah menjadi seniman bagi hatimu sendiri,
    agar kekosongan itu
    tidak melahirkan kegaduhan,
    melainkan zikir yang menjelma melodi
    di taman keabadian.

    Penulis :
    Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
    (Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini