masukkan script iklan disini
Di dada sunyi sebuah kecapi,
terhampar ruang kosong
yang tak berwujud,
namun menyimpan kemungkinan tak bertepi.
Kosong—
bukan sekadar hampa,
melainkan rahim nada
yang menunggu disentuh takdir jemari.
Jika tangan seniman yang arif menyapanya,
jemari yang mengerti rahasia getar,
maka dari ruang kosong itu
lahirlah melodi yang meneduhkan langit batin—
mengalir seperti doa di sepertiga malam,
menyejukkan jiwa yang letih oleh dunia,
mendamaikan sanubari yang lama bergolak.
Namun bila kecapi disentuh
oleh tangan yang kehilangan rasa,
oleh jemari yang tak mengenal hikmah sunyi,
maka kosong yang sama
menjelma kegaduhan yang memekakkan.
Nada-nada tersesat dari jalan harmoni,
melodi terjerembab dalam kegelisahan,
dan gendang telinga pun bergemuruh
seakan hati dipaksa menanggung kegaduhan dunia.
Begitulah hakikat kosong—
ia tidak pernah salah.
Yang menentukan hanyalah
siapa yang memainkannya.
Seperti hati manusia:
jika ia disentuh oleh cahaya Ilahi,
ia menjadi kecapi yang menebar kedamaian.
Namun jika ia dikuasai nafsu dan lalai,
getarnya hanya melahirkan riuh
yang menjauhkan jiwa dari ketenteraman.
Maka belajarlah menjadi seniman bagi hatimu sendiri,
agar kekosongan itu
tidak melahirkan kegaduhan,
melainkan zikir yang menjelma melodi
di taman keabadian.
Penulis :
Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)




