• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Persaudaraan – Pertemanan yang Autentik: "Diskursus Kebangsaan bersama Mayor Jenderal TNI (Purn) H. Albiner Sitompul dan Para Pendekar di Masjid Al-Jihad Kota Medan"

    REDAKSI
    Sabtu, 14 Maret 2026, Maret 14, 2026 WIB Last Updated 2026-03-14T20:37:51Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
    (Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)

    Di tengah dunia yang semakin bergerak dalam logika kepentingan, relasi manusia sering kali tereduksi menjadi sekadar transaksi. 

    Pertemanan diukur dari manfaat, kedekatan ditentukan oleh posisi, dan persaudaraan kerap dibatasi oleh kalkulasi untung dan rugi. Dalam lanskap sosial seperti ini, hubungan yang benar-benar autentik justru menjadi sesuatu yang langka, bahkan terasa seperti kemewahan moral yang tidak semua orang mampu memilikinya.

    Namun saya belajar, bahwa persaudaraan sejati tidak pernah lahir dari meja perundingan kepentingan, melainkan tumbuh dari kedalaman kesadaran kemanusiaan.

    Hal inilah yang saya rasakan dalam perjalanan persaudaraan dan pertemanan saya dengan Mayor Jenderal TNI (Purn) H. Albiner Sitompul. 

    Sebuah hubungan yang tidak dibangun oleh kepentingan politik, tidak pula dipertahankan oleh keuntungan pragmatis, melainkan bertahan karena fondasi nilai: ketulusan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

    Saya mengenal beliau sejak masih aktif dalam dunia militer dan pernah mengemban amanah strategis sebagai Kepala Biro Pers di 

    Sekretariat Negara Republik Indonesia. Sebuah posisi yang tentu memiliki pengaruh dan prestise. Namun yang menarik bagi saya bukanlah jabatannya, melainkan karakter pribadinya: ketenangan sikap, kedalaman berpikir, serta kemampuan merawat hubungan tanpa sekat formalitas kekuasaan.

    Persaudaraan kami tidak dimulai karena jabatan, dan tidak berakhir ketika jabatan itu selesai.

    Dan justru di situlah ujian autentisitas sebuah hubungan: apakah ia tetap hidup ketika atribut kekuasaan telah dilepaskan?

    Waktu telah menjawabnya.

    Hubungan itu tetap terjaga, bahkan menjadi lebih jernih, karena sejak awal tidak pernah dibangun di atas kepentingan. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada kontrak tidak tertulis, tidak ada ekspektasi pragmatis. Yang ada hanyalah ruang dialog, pertukaran gagasan, dan perjumpaan nilai.

    Dalam berbagai diskursus yang kami lakukan, termasuk dalam pertemuan penuh makna bersama para pendekar di Masjid Al-Jihad Kota Medan, saya semakin menyadari bahwa manusia-manusia yang telah matang dalam perjalanan hidupnya biasanya tidak lagi mencari relasi untuk kepentingan, melainkan untuk makna.

    Karena pada fase kedewasaan spiritual tertentu, manusia tidak lagi bertanya:
    "Apa yang bisa saya dapatkan dari hubungan ini?"

    Tetapi berubah menjadi:
    "Nilai apa yang bisa kita rawat bersama dalam hubungan ini?"

    Inilah yang saya sebut sebagai persaudaraan autentik — persaudaraan yang lahir bukan dari kesamaan kepentingan, tetapi dari kesamaan kesadaran.

    Kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk spiritual yang sedang menjalani pengalaman sosialnya di dunia. Bahwa jabatan hanyalah episode, kekuasaan hanyalah titipan waktu, dan pengaruh hanyalah ujian tanggung jawab.

    Yang abadi justru adalah bagaimana kita memperlakukan manusia lain sebagai manusia.

    Dalam perspektif ini, saya semakin meyakini bahwa hubungan terbaik bukanlah hubungan yang paling menguntungkan, tetapi hubungan yang paling memanusiakan.

    Karena relasi yang dibangun atas dasar kepentingan akan berumur sepanjang kepentingan itu ada. Tetapi relasi yang dibangun atas dasar nilai akan bertahan sepanjang karakter itu dijaga.

    Di sinilah spiritualitas memainkan peran penting dalam membangun pertemanan yang autentik. Spiritualitas mengajarkan bahwa setiap perjumpaan adalah takdir, setiap hubungan adalah amanah, dan setiap persaudaraan adalah ladang pengabdian nilai.

    Hubungan yang tidak didasari spiritualitas sering berubah menjadi kompetisi tersembunyi. Tetapi hubungan yang lahir dari kesadaran spiritual akan berubah menjadi kolaborasi kemanusiaan.

    Dalam diskusi kami, saya melihat satu kesamaan cara pandang: bahwa Indonesia ke depan tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang matang secara karakter. Tidak hanya membutuhkan tokoh yang kuat secara posisi, tetapi juga kuat secara nilai.

    Karena bangsa besar tidak hanya dibangun oleh sistem yang hebat, tetapi oleh manusia yang memiliki integritas batin.

    Persaudaraan seperti inilah yang sebenarnya menjadi modal sosial bangsa yang sering tidak terlihat, tetapi justru menentukan kualitas masa depan. Jaringan manusia yang saling terhubung bukan karena kepentingan, tetapi karena nilai, akan melahirkan peradaban yang lebih sehat.

    Saya percaya, bangsa ini akan lebih kuat jika semakin banyak hubungan yang dibangun atas dasar ketulusan daripada kepentingan.
    Lebih banyak persahabatan yang lahir dari kejujuran daripada kalkulasi.

    Lebih banyak persaudaraan yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita semua sedang berjalan menuju tujuan yang sama: menjadi manusia yang lebih baik.

    Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu lama mengingat siapa yang paling berkuasa.

    Tetapi sejarah akan selalu mengingat siapa yang paling tulus dalam menjaga nilai kemanusiaan.

    Dan dari perjalanan persaudaraan ini saya belajar satu hal sederhana namun mendalam:
    Hubungan yang paling kuat bukanlah hubungan yang dijaga oleh kepentingan, tetapi yang dijaga oleh ketulusan.

    Dan hubungan yang paling panjang umurnya bukanlah hubungan yang diikat oleh kebutuhan, tetapi yang diikat oleh nilai.

    Karena persaudaraan yang autentik tidak pernah bertanya: "Apa manfaatmu bagiku?"

    Tetapi selalu bertanya: "Bagaimana kita bisa tetap menjadi manusia yang saling menjaga kemanusiaan?"
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini