• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    banner

    World Sexual Health Day 2026: BEM Nusantara Satukan Suara Mahasiswa Lewat Gerakan “Kenali, Lindungi, Hormati”

    MMS
    Jumat, 04 September 2026, September 04, 2026 WIB Last Updated 2026-09-04T16:11:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    RADARHUKUM.SITE | Jakarta, 4 September 2026 - Dalam rangka memperingati World Sexual Health Day yang jatuh pada 4 September, BEM Nusantara melalui Bidang Keperempuanan dan Kesehatan menghadirkan “BEM Nusantara Sexual Health Movement 2026”, sebuah gerakan nasional yang mendorong penguatan literasi kesehatan seksual dan reproduksi sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan kekerasan seksual.

    Mengusung tema “Kenali, Lindungi, Hormati: Bersama Mewujudkan Generasi yang Sehat dan Berdaya”, gerakan ini menjadi ruang kolaborasi bagi jaringan BEM Nusantara di berbagai daerah untuk menghadirkan edukasi yang lebih terbuka, bertanggung jawab, dan mudah dipahami oleh generasi muda.

    Rangkaian gerakan dilakukan melalui edukasi langsung kepada pelajar, kampanye digital nasional, produksi konten edukatif, serta pemetaan isu dan dokumentasi kekerasan seksual di berbagai wilayah.

    Gerakan tersebut hadir di tengah situasi kekerasan berbasis gender terhadap perempuan yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2025, tercatat 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Komnas Perempuan menilai peningkatan tersebut berkaitan dengan semakin luasnya pendokumentasian dan meningkatnya keberanian korban untuk melapor. Namun, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih terjadi dalam skala yang besar.

    Dari 3.682 kasus KBGtP yang diadukan langsung kepada Komnas Perempuan, kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan dengan proporsi 37,51 persen, disusul kekerasan psikis sebesar 32,48 persen dan kekerasan fisik sebesar 18,93 persen.

    Komnas Perempuan juga mencatat bahwa korban paling banyak berada pada kelompok usia 18–24 tahun dan 25–40 tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan edukasi dan perlindungan bagi perempuan muda dalam berbagai ruang kehidupan.

    Data tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai kesehatan seksual tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan. Literasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi, consent, batas personal, relasi yang sehat, serta pencegahan kekerasan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan generasi muda untuk mengenali situasi berisiko sekaligus menghormati hak orang lain.

    Membuka Ruang Edukasi yang Selama Ini Dianggap Tabu

    Koordinator Bidang Keperempuanan dan Kesehatan Pusat BEM Nusantara, Cindy Aberta Ningrum, mengatakan bahwa momentum World Sexual Health Day perlu dimanfaatkan untuk membuka ruang edukasi terhadap isu kesehatan seksual yang selama ini masih kerap dianggap tabu.

    «“Kami tidak ingin isu kesehatan seksual terus dianggap tabu, sementara kasus kekerasan justru terus berulang di sekitar kita. Momentum World Sexual Health Day ini kami jadikan titik tolak agar seluruh BEM Nusantara memiliki satu suara yang sama: mengenali, melindungi, dan menghormati,” ujar Cindy Aberta Ningrum.»

    Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran agar generasi muda mampu memahami batas diri, menghormati persetujuan, serta mengetahui pentingnya mencari dukungan ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kekerasan seksual.

    Mahasiswa sebagai Bagian dari Gerakan Edukasi

    Sebagai bagian dari lingkungan pendidikan dan kelompok muda, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun budaya yang lebih sadar terhadap kesehatan seksual dan reproduksi.

    Karena itu, BEM Nusantara memandang bahwa edukasi tidak cukup hanya dilakukan dalam ruang akademik. Edukasi juga perlu hadir di ruang publik dan ruang digital yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

    Koordinator Pusat BEM Nusantara, Muhammad Sardani, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam isu kesehatan seksual merupakan bagian dari tanggung jawab sosial gerakan mahasiswa untuk merespons berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

    «“BEM Nusantara melihat bahwa isu kesehatan seksual dan kekerasan seksual bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Mahasiswa memiliki ruang untuk ikut membangun kesadaran melalui edukasi, kampanye, dan penguatan kepedulian di lingkungan masing-masing. Karena itu, gerakan ini kami dorong sebagai gerakan bersama, agar suara mahasiswa dari berbagai daerah dapat terhubung dalam satu semangat untuk menciptakan ruang yang lebih aman, sehat, dan saling menghormati,” ujar Muhammad Sardani.»

    Sardani menambahkan bahwa kolaborasi lintas wilayah menjadi salah satu kekuatan penting dalam gerakan tersebut. Menurutnya, keberagaman latar belakang dan karakteristik daerah dalam jaringan BEM Nusantara justru menjadi modal untuk menghadirkan pendekatan edukasi yang relevan dengan kondisi masyarakat di masing-masing wilayah.

    Empat Rangkaian BEM Nusantara Sexual Health Movement 2026

    BEM Nusantara Sexual Health Movement 2026 diwujudkan melalui empat rangkaian utama yang melibatkan jaringan BEM Nusantara di berbagai daerah.

    1. National Action — Penyuluhan Langsung kepada Pelajar

    Di bawah koordinasi Riski Permata Sari selaku PJ Jakarta, tim akan melaksanakan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi secara langsung di SMP YPMII Jatinegara, Jakarta, pada 4 September 2026.

    Kegiatan ini diproyeksikan menjangkau lebih dari 70 siswa-siswi dengan menghadirkan narasumber dari Puskesmas setempat serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

    2. National Campaign — #100SuaraBEMNusantara

    Kampanye digital ini dikoordinasikan oleh Febriyana Masripah selaku PJ Lampung dengan mengajak seluruh jaringan BEM Nusantara untuk menggunakan twibbon resmi dan mengunggahnya secara serentak pada 4 September 2026.

    Kampanye ini menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dari berbagai daerah dalam menyuarakan pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi melalui satu gerakan bersama.

    3. Sexual Health Corner — Konten Edukatif dari Daerah

    Rangkaian ini digagas oleh Rohmaya Artini selaku PJ Sumatera Selatan dan mendorong setiap BEM daerah untuk memproduksi karya edukatif secara mandiri dalam bentuk video maupun flyer.

    Materi yang diangkat mencakup consent, personal boundaries, pencegahan kekerasan seksual, serta mitos dan fakta mengenai kesehatan seksual dan reproduksi remaja.

    Melalui pendekatan digital, informasi diharapkan dapat menjangkau generasi muda dengan bahasa yang lebih dekat, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    4. Pemetaan Isu — Dokumentasi Kasus Pelecehan dan Kekerasan di Daerah

    Rangkaian ini dikoordinasikan oleh Iksan Prawira selaku PJ Sulawesi Barat dengan menghimpun tulisan dari anggota Bidang Keperempuanan dan Kesehatan BEM daerah mengenai kasus maupun fenomena pelecehan dan kekerasan seksual di wilayah masing-masing.

    Pemetaan juga akan mencakup berbagai upaya penanganan yang telah dilakukan di daerah. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu basis pengetahuan sekaligus bahan penguatan advokasi BEM Nusantara ke depan.

    Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Memperingati

    Melalui gerakan ini, BEM Nusantara ingin menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem perubahan.

    Edukasi mengenai kesehatan seksual diharapkan dapat membantu generasi muda memahami hak atas tubuh dan dirinya, mengenali batas personal, memahami pentingnya persetujuan, menghormati batas orang lain, serta tidak menormalisasi tindakan yang mengarah pada kekerasan dan pelecehan seksual.

    Gerakan ini juga menjadi upaya untuk memperluas percakapan mengenai kesehatan seksual agar tidak selalu ditempatkan sebagai isu yang tabu. Pembahasan yang sehat, terbuka, dan bertanggung jawab justru diperlukan agar generasi muda memiliki pengetahuan yang memadai untuk menjaga diri, membangun relasi yang sehat, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

    BEM Nusantara berharap Sexual Health Movement 2026 tidak berhenti pada momentum World Sexual Health Day semata. Kampanye ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antardaerah, memperluas edukasi publik, membangun dokumentasi isu, serta mendorong advokasi yang berkelanjutan.

    Pada akhirnya, gerakan ini membawa satu pesan yang ingin disuarakan bersama oleh mahasiswa di berbagai daerah: kesehatan seksual adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan dan kesejahteraan manusia, sementara menciptakan ruang yang aman dan bebas dari kekerasan merupakan tanggung jawab bersama.

    Kenali. Lindungi. Hormati.

    BEM Nusantara Sexual Health Movement 2026
    Bersama Mewujudkan Generasi yang Sehat dan Berdaya.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini