• Jelajahi

    Copyright © RADAR HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Orang Miskin yang Sombong: Ketika Kekurangan Tidak Melahirkan Kerendahan Hati

    REDAKSI
    Minggu, 29 Maret 2026, Maret 29, 2026 WIB Last Updated 2026-03-29T11:27:55Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Oleh : Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
    (Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban)

    Bismillahirrohmanirrohiim

    Dalam kehidupan sosial, kemiskinan sering dipahami sebagai kondisi yang seharusnya melahirkan empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Namun realitas tidak selalu demikian. Ada sebagian orang yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tetapi justru menunjukkan sikap sombong, merasa paling benar, meremehkan orang lain, bahkan menolak nasihat. Fenomena ini menjadi ironi moral, karena kesulitan hidup seharusnya mendekatkan manusia kepada Tuhan, bukan menjauhkannya.

    Dalam perspektif Islam, kesombongan bukan diukur dari harta, tetapi dari sikap hati. 

    Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim)

    Ketika seorang sahabat bertanya apakah berpakaian bagus termasuk kesombongan, Rasulullah ﷺ menjelaskan:
    "Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." (HR. Muslim)

    Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan tidak terkait dengan status kaya atau miskin. 

    Orang miskin pun bisa terjerumus dalam kesombongan jika ia menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Inilah kesombongan yang berbahaya, karena tidak terlihat dari penampilan, tetapi berakar dalam hati.

    Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap sikap sombong. Allah berfirman:
    "Dan janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
    (QS. Luqman: 18)

    Ayat ini tidak menyebutkan status ekonomi, karena kesombongan adalah penyakit universal yang bisa menyerang siapa saja. 

    Bahkan dalam hadis lain Rasulullah ﷺ menyebutkan golongan yang mendapat perhatian khusus dalam peringatan moral:
    "Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih..." Salah satunya adalah orang fakir yang sombong (HR. Muslim).

    Mengapa orang miskin yang sombong mendapat peringatan keras? Karena secara logika moral, ia tidak memiliki faktor duniawi yang biasanya menjadi sebab kesombongan seperti kekuasaan atau kekayaan, namun tetap memilih untuk bersikap angkuh. Ini menunjukkan bahwa kesombongan tersebut murni berasal dari penyakit hati, bukan karena pengaruh materi.

    Kemiskinan dalam Islam justru dianjurkan untuk menjadi jalan menuju ketawadhuan (kerendahan hati). Banyak ulama menekankan bahwa kemuliaan seseorang bukan pada hartanya, tetapi pada akhlaknya. Orang miskin yang sabar dan rendah hati justru memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Sebaliknya, kemiskinan yang dibarengi kesombongan hanya akan menambah beban moral.

    Tulisan ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat. Bahwa penderitaan ekonomi tidak otomatis membuat seseorang lebih mulia. Kemuliaan lahir dari sikap hati: kejujuran, kerendahan hati, dan keterbukaan terhadap kebenaran. 

    Akhir kata, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kesulitan hidup membuat kita lebih dekat kepada Tuhan, atau justru membuat kita keras hati terhadap sesama? 

    Karena bisa jadi bukan kemiskinan yang menjauhkan seseorang dari rahmat Allah, tetapi kesombongan yang ia pelihara di dalam hatinya.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini